KH Chasan Tholabi Ulama Nahdlatul Ulama Kulonprogo Yogyakarta
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Chasan Tholabi
Kelahiran
KH. Chasan Tholabi lahir pada tahun 1921 di Krapyak. Beliau merupakan putra dari KH. Amiruddin bin KH. Abdullah Rosyad. Beliau juga adalah keponakan dari KH. Muhammad Munawwir, Krapyak.
Wafat
KH. Chasan Tholabi wafat pada tahun 1991 di rumahnya, di Krapyak.
Keluarga
Sepulang dari Demak, KH. Chasan Tholabi melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Mursyidinah yang masih kerabatnya sendiri, yakni masih cucu dari KH. Abdullah Rosyad.
Selepas menikah, beliau tetap fokus berdakwah keliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Tercatat enam kali Kiai Chasan ngontrak rumah di Jogja Kota dan Bantul, diantaranya di Krapyak Wetan, Krapyak Kulon, Sewon, Sentolo, Mergangsan Kidul, Mergangsan Lor. Baru yang ketujuh beliau fokus pindah ke Wates.
Selama berdakwah, Bu Nyai Mursyidinah pun turut menopang ekonomi keluarga. Bu Nyai berdagang minyak tanah, pakaian, dan lainnya, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kiai Chasan dikenal ulama’ yang terus menemani masyarakat dalam pengajian. Tidak mengenal lelah, selalu keliling untuk mendidik masyarakat. Ini juga selalu didorong KH. Ali Maksum, sehingga Kiai Chasan sangat bersemangat untuk ngaji dengan masyarakat secara keliling.
Pendidikan
Chasan kecil memulai pendidikannya dengan belajar kepada ayahnya sendiri, Kiai Amiruddin. Setelah mulai beranjak dewasa, Chasan kemudian mengaji kepada Pak Dhe-nya, yakni KH. Munawwir. Kepada KH. Munawwir, Kiai Chasan mengaji Al-Qur’an sampai juz 25. Belum sempat Kiai Chasan mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an, KH. Munawwir wafat tahun 1942.
KH. Munawwir merupakan sosok kiai yang sangat keras kalau yang mengaji itu kerabatnya sendiri. Kalau sedikit saja melakukan pelanggaran, maka akan segera dita’zir, dihukum. Ini dilakukan Kiai Munawwir dengan penuh kedisiplinan, berharap agar kerabatnya menjadi ulama yang kelak akan berjuang mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.
Setelah mengaji kepada KH. Munawwir, Kiai Chasan mulai berkelana ngajinya di Pesantren Tremas, Pacitan. Disana beliau belajar fiqih, tafsir, dan ilmu lainnya. Pesantren Tremas dikenal sebagai pesantren yang melahirkan ulama’-ulama’ besar, termasuk KH. Ali Maksum dan KH. Hamid Pasuruan.
Selepas dari Tremas, Kiai Chasan mengkhatamkan hafalan al-Qur’an di Demak, di
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

