KH. Abdul Hadi As-Syafii Ulama Nahdlatul Ulama Sleman Yogyakarta
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Abdul Hadi As-Syafii
Kelahiran
KH. Abdul Hadi As-Syafii lahir pada tahun 1921 – 1999 di dusun Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman Yogyakarta. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Syafi’i dengan Ny.Hj Syafi’i.
Keluarga
KH. Abdul Hadi As-Syafii melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai. Hj. Hadiah binti H. Dahlan.
Setelah menikah beliau bermukim di Dusun Gaten. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, KH. Abdul Hadi As-Syafii bekerja sebagai pedagang (juragan) hasil pertanian dan lembu.
Berkat keuletan, kejujuran, dan kerendahan hatinya, beliau dalam waktu singkat telah menjadi petani dan saudagar sukses. Kesuksesannya tidak menyebabkan beliau sombong, tetapi justru menjadi cambuk bagi KH. Abdul Hadi As-Syafii untuk terus bekerja, berkarya, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Pendidikan
KH. Abdul Hadi As-Syafii memulai pendidikannya dengan disekolahkan oleh orang tuanya di sekolah rakyat. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya, KH. Abdul Hadi dikirim oleh orang tuanya untuk menimba ilmu agama pada beberapa ulama di sekitar Yogyakarta, seperti KH. Muhdi, KH. Muhammad Krapyak Lor, KH. Ashari Lempuyangan, K. Muhsin Pomahan, dan beberapa ulama di daerah Mlangi, Sleman.
Dari guru-gurunya tersebut, KH. Abdul Hadi tidak sekedar belajar ilmu agama, tetapi juga belajar ilmu tentang hidup dan kehidupan. Oleh karenanya, beliau tidak sombong walaupun pada zaman itu beliau termasuk sedikit orang yang berkesempatan untuk mengenyam pendidikan dasar dan belajar kepada kiai-kiai berpengaruh di wilayah Yogyakarta.
Mendirikan Pesantren
Pada tahun 1961, KH. Abdul Hadi As-Syafii mendirikan pondok pesantren yang diberi nama “Pondok Pesantren Salafiyah”. Dilihat dari namanya, pondok pesantren yang didirikan KH. Abdul Hadi tersebut bertujuan untuk mencetak santri yang memiliki kepribadian sebagaimana ulama-ulama salaf. Pada awal pendiriannya, kebanyakan santrinya masih berstatus sebagai santri kalong atau santri yang hanya datang pada waktu malam.
Sedangkan santri yang bermukim di rumah KH. Abdul Hadi hanya berjumlah 5 orang. Berkat kesabaran, keteguhan hati, dan metode hikmah yang digunakan untuk mendidik santri, semakin lama jumlah santri KH. Abdul Hadi semakin banyak. Walaupun telah menjadi seorang kiai muda dengan santri yang banyak, KH. Abdul Hadi setiap pagi dengan cangkul dipundaknya dan sabit ditangannya tetap mengunjungi lahan pertaniannya.
KH. Abdul Hadi terus berjuang untuk mencerdaskan masyarakat dan mensyiarkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau tidak hanya mengorbankan waktu dan tenaganya, tetapi juga hartanya. Hasil dari aktivitas berdagang dan pertaniannya, beliau gunakan untuk menambah sarana dan prasarana pendidikan.
Beliau hadir sebagai sosok pribadi yang sederhana, tulus, sangat tawadlu’ (rendah hati), terbuka, realistis, ulet, dan teguh pendirian. Kelembutan ini menyebabkan beliau menjadi pribadi yang sangat dicintai dan dihormati, sehingga tidak sedikit yang secara sukarela membantu perjuangan beliau untuk menjadikan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Sleman sebagai pusat pendidikan Islam.
Seiring semakin banyaknya jumlah santri, baik yang hanya hendak belajar agama, maupun dari kalangan mahasiswa IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga dan siswa PGA, pada tahun 1976 KH Abdul Hadi mengganti nama Pondok Pesantren Salafiyah menjadi
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

