Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Hasan Nuri Hidayatullah
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Hasan Nuri Hidayatullah

lahir 1978 M · 29.439 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Hasan Nuri Hidayatullah Ulama Nahdlatul Ulama Karawang Jawa Barat

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Hasan Nuri Hidayatullah

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Pengasuh Pesantren
  4. Peranan di Nahdlatul Ulama
  5. Pembinaan Ekonomi Umat
  6. Menjadi Ketua PWNU Jawa Barat
  7. Teladan

Kelahiran

KH. Hasan Nuri Hidayatullah atau yang kerap disapa dengan panggilan Gus Hasan merupakan nama yang tidak asing lagi bagi kebanyakan penduduk di wilayah Karawang Jawa Barat, khususnya kecamatan Cilamaya. Kiai ini dikenal sebagai sosok muda yang santun, cerdas, progresif dan visioner. Walaupun usianya masih relatif muda, namun keilmuannya sangat mumpuni layaknya kyai – kyai sepuh lainnya. Hal ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari pendidikan yang ditempuhnya baik dari lingkungan keluarga maupun pesantren lainnya.

Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, begitulah pepatah yang pas untuk menggambarkan pribadi Gus Hasan. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Ibrahim Majid, seorang kyai dari Banyuwangi dan Nyai Hj. Sa’adatul Ukhrowiyah (Putri pendiri Pesantren Manba’ul ulum Berasan Muncar Banyuwangi). Semenjak kecil, pesantren menjadi lingkungan yang sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian Gus Hasan. Tata laku yang diajarkan oleh sepuh-sepuhnya menjadikannya seorang pribadi yang sangat mencintai ilmu dan mengayomi masyarakat.

Pendidikan

KH. Hasan Nuri Hidayatullah memulai pendidikannya dengan belajar di pesantren Manba’ul ulum Berasan, Muncar, Banyuwangi pimpinan KH. Iskandar (Askandar), yang notabene kakek Gus Hasan. Sebagaimana layaknya kehidupan pesantren pada umumnya, walaupun merupakan putra seorang kyai, serta merupakan cucunya sendiri, Hasan dididik dengan kesederhanaan dan kebersahajaan.

Kecintaannya terhadap teman – temannya sesama santri menjadikan Hasan lebih memilih tinggal di asrama santri daripada tinggal di rumah kakeknya (ndalem) sebutan untuk rumah kiai. Kehidupan santri yang ala kadarnya, serta jauh dari kesan mewah.

Sikap rajin, ramah dan mudah bergaul menjadikan Hasan banyak disenangi oleh teman-temannya. Ditambah lagi dengan kecerdasan yang dimilikinya. Jika mendapati temannya kesulitan dalam dalam belajar, dia tak sungkan-sungkan membantunya. Di mata mereka, Hasan menjadi tempat bertanya tentang banyak hal.

Sikap suka membantu temannya tidak hanya dia tunjukan dalam hal-hal yang bersifat pelajaran, namun juga dalam segi materil. Dia tak jarang mentraktir temen-temennya ketika datang kiriman bekal dari orang tuanya. Dalam pandangan teman-temannya Hasan merupakan sosok yang suka berbagi serta tidak pelit. Sikapnya yang demikian, tak pelak menjadikanya sebagai sosok santri yang istimewa dimata teman-temanya. Di mana ada Hasan, disitu pasti teman-temannya berkumpul.

Selama di pesantren dalam hal belajar al-Quran, Hasan dibimbing langsung oleh neneknya, sedangkan dalam ilmu fiqih dia dibimbing oleh KH. Hasan Sadzili yang notabene pakde nya. Dalam hal ini bukan hanya nasab Hasan yang jelas, tetapi sanad keilmuannya pun terlihat secara jentre.

Pendidikan dasar dia lalui dengan segudang pengalaman masa kecil yang menarik. Setelah pendidikan dasar dia tamatkan. Keingintahuannya yang tinggi terhadap lingkungan pesantren di luar daerah kelahiranya menjadikannya dia lebih memilih melanjutkan pendidikan menengahnya di Jakarta yakni Ponpes Ashiddiqiyah  Pimpinan

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+