Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Asmuni (Guru Danau)
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Asmuni (Guru Danau)

lahir 1955 M · 48.527 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

guru danau ulama Amuntai Kalimantan Selatan

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Asmuni (Guru Danau)

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Mendirikan Majelis Taklim dan Pesantren
  4. Kata-Kata Mutiara

Kelahiran

KH. Asmuni atau yang kerap disapa dengan panggilan Guru Danau lahir pada tahun 1955 M (1374 H) di Danau Panggang. Beliau merupakan putra H. Masuni (H. Sani).

Pada waktu kecil beliau bernama Zarkasyi, kemudian oleh Habib Salim Mangkatip nama tersebut diubah menjadi Asmuni.

Pendidikan

Pada tahun 1971, Guru Danau memulai pendidikannya dengan belajar di Pesantren Muallimin Danau Panggang dan Pondok Pesantren Darul Hikmah Danau Panggang. Setelah selesai, beliau Kemudian melanjutkan lagi pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Darusalam Martapura, dan selesai pada tahun 1977.

Selanjutnya, beliau melanjutkan lagi pendidikanya dengan belajar di Pondok Pesantren Datuk Kalampayan di Bangil, Jawa Timur, dan yang terakhir adalah belajar di Pondok Pesantren Tempel Yogyakarta.

Di antara guru-guru beliau, diantaranya KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul), KH. Muhammad Syarwani Abdan (Bangil), KH. Abdul Hamid Pasuruan, Habib Luthfi bin Yahya, dan lain-lain.

Mendirikan Majelis Taklim dan Pesantren

Setelah berguru dengan ulama-ulama di Tanah Jawa, pada tahun 1978, Guru Danau kemudian, pulang kampung dan membuka Majelis Pengajian pada malam Minggu di Desa Bitin, membuka majelis pengajian pada malam Selasa di Danau Panggang (1980). Diluar kabupaten Hulu Sungai Utara, beliau juga membuka Majelis Pengajian di Mabuun Tanjung (1990-an) serta Majelis Taklim “Bani Alawi” di Pematang Karau Barito Timur.

Disamping berdakwah, beliau juga mengelola 3 buah pondok pesantren, yaitu Pondok Pesantren Darul Aman di Pajukungan, Babirik, Amuntai, Pondok Pesantren Hidayatus Shibyan di Danau Panggang dan Pondok Pesantren Raudhah di Jaro Tanjung Tabalong.

Kata-Kata Mutiara

“Tidak bisa ketemu Rasulullah (secara) cepat, kalau kadada anak cucunya di rumah kita. Walaupun ikam baamal bahimat. No. Tidak. Harus ada digaduh anak cucu Rasulullah. Bukan mailangi kita, tapi mailangi cucunya. Dengan berkat cucunya kita bisa bertemu Rasulullah Shallahu’alaihi wasalam. Itulah amalan nang paling mujarab, pertama kita bantu ahlul bait Nabi dan kita haragu. Kada usah  amalan banyak-banyak. Sayangi cucu Nabi haja, Insya Allah Nabi datang juga”.

“95 %  wali Qutub itu adalah cucunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam. Kenapa sebabnya ? (karena) Nabi itu meninggalkan ahlul bait Nabi semua bersih. Kalau kita punya dosa laksana masuk ke lumpur, susah mambarasihi, tapi kalau ahlul bait, ibarat kena debu ditiup pun bisa. Inilah keagungan ahlul bait Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wasalam”.

“Tidak bisa dibukakan ilmu laduni kalau kada dekat dengan para habaib, (kalau tidak) melalui pintunya ahlul bait Rasulullah”.

“Setiap wali tu duduk mendengarkan apa yang dibicarakan orang”

“Orang yang mendapat keramat hissy adalah orang yang

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+