Tuan Guru Sani Ulama Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil Tuan Guru Sani
- Kelahiran
- Wafat
- Pendidikan
- Mendirikan Pesantren
- Sahabat Karib Dr. KH. Idham Chalid
- Wasiat Tuan Guru Sani
- Teladan
Kelahiran
KH. Muhammad Sani atau yang disapa dengan Guru Sani lahir di 1918 di Alabio, Hulu Sungai Utara
Wafat
Guru Sani wafat pada 14 September 1986 / 11 Muharram 1407 H di Pesantren Al Falah Banjarbaru.
Pendidikan
Pada masa mudanya Guru Sani belajar di Madrasah Ibtidaiyah Sei Pandan, Alabio, Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan. Masa mudanya digunakan untuk belajar ilmu pengetahuan agama Islam dengan sistem salafiyah, diberbagai kampung. Ia sangat rajin belajar dan membaca kitab kuning, apalagi setelah ia berpindah ke kota Banjarmasin yang menuntut ia harus rajin membaca dan belajar. Belajar mandiri secara otodidak terus ia kembangkan hingga akhir hayatnya.
Sejak muda perjalanan hidupnya serat dengan perjuangan untuk memajukan pendidikan di masyarakat. Ia banyak mengedepankan masalah fiqih dan tasawuf yang bertitik tekan pada keikhlasan manusia. Ia juga aktif sebagai muballigh atau guru agama, baik di masjid, langgar dan majlis taklim.
Beliau juga adalah seorang tokoh yang sangat sederhana. Setiap pagi, kecuali hari Jumat, jam 06.00 beliau sudah datang ke pesantren dari kediaman beliau di Banjarmasin yang berjarak sekitar 23 km dengan menaiki taksi. Sesampai di pesantren guru-guru masih makan di ruang makan, beliau sudah siap dengan pakaian kerja, yaitu celana bawah lutut, baju dalaman, dan kopiah putih.
Kemudian beliau mengambil cangkul untuk membersihkan lingkungan pesantren, menanaminya dengan pohon buah-buhan, sehingga lingkungan pesantren menjadi asri dan hijau, disamping buah-buhan yang dihasilkan dapat dinikmati oleh para santrinya.
Dalam satu kesempatan beliau bernasihat agar jangan malas menanam tanaman, karena hasilnya adalah untuk anak cucu, generasi yang akan datang. Menurut beliau apa yang kita makan sekarang adalah tanaman yang ditanam oleh generasi terdahulu. Karena Nabi menganjurkan agar kita menanam, sebagaimana Hadits Nabi: “Siapa saja yang menanam tanaman, apakah buahnya dimakan manusia, atau dimakan binatang, atau dimakan burung, maka semua itu adalah sedekah dari orang yang menanamnya.”
Saat jam istirahat mengajar, beliau sering berkumpul dengan guru-guru dan karyawan di kantor pesantren sambil memberikan nasihat. Beliau mengharapkan agar mereka selalu bersemangat dan ikhlas dalam mengabdi di pesantren. Bagi guru-guru pesantren, baik yang tinggal di pondok maupun yang pulang pergi, beliau tekankan jangan hanya sekedar mengajar, tetapi juga harus mendidik dan memberikan kepada para santri teladan yang baik.
Kegigihan beliau dalam membangun pesantren ditunjukkan dengan seringnya, dan bahkan secara rutin meminta bantuan sumbangan dari para pedagang di pasar-pasar tradisional di dekat kediaman beliau. Konon Guru Sani sempat diberi gelar sebagai tukang tagih pajak (penadah pajak) disebabkan ketegasan beliau dalam melaksanakan penagihan.
Guru Sani bahkan menentukan sediri besaran yang harus disumbangkan oleh para dermawan. Karena itulah Guru Sani sangat dikenal oleh para pedagang, khususnya masyarakat kampung Alabio, dan dianggap sebagai tuan guru mereka. Pada bulan puasa Guru Sani juga suka menjamu berbuka puasa masyarakat di sekitar langgar beliau.
Untuk membangun pesantren beliau bahkan tidak segan membeli rumah yang dijual oleh penghuninya untuk dibongkar dan bahan-
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

