Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim

wafat 0079 M · 12.890 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim Ulama Nahdlatul Ulama Lampung

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Biografi KH. Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Berdakwah di Cilacap
  6. Hijrah ke Lampung
  7. Mendirikan Banyak Masjid
  8. Silsilah Thariqah Qadiriyah KH. Busthomil Karim
  9. Silsilah Thariqah Naqsyabandiyah KH. Busthomil Karim

Kelahiran

KH. Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim atau yang lebih dikenal dengan nama Mbah Busthom lahir di Lengkong, Wonoresik Wonosari, Kebumen, Jawa Tengah pada tahun 1890. Beliau merupakan putra dari pasangan Pak Sandikrama bin Dulah Siroj dengan Ibu Syartiyah. Masa kecil beliau dihabiskan di kampung halaman tempat kelahirannya sampai menginjak remaja.

Wafat

Sepulang dari Jawa kondisi Simbah Busthomi tidak kunjung membaik, akhirnya pada tanggal 11 Dzulhijjah 1399 atau bertepatan pada tanggal 3 November 1979 beliau berpulang keharibaan Allah SWT di Way Lunik. Perjuangan beliau diteruskan oleh KH. Jamaluddin HB. Putra yang ke 10-nya, dan ditangan dinginnya ini kini Pondok Pesantren Roudlotussholihin telah mencetak ribuan kader-kader Islam yang bertebaran hampir seluruh Provinsi di Sumatera.

Pendidikan

Lazimnya anak-anak desa pada zamanya, busthomi kecil mengawali pengembaraan keilmuannya untuk mengaji Al-Qur’an dan kitab-kitab kuning semisal kitab Kasyifatussaja, Sarah Sulamussafinah, kitab Sulamuttaufiq dan kitab lainnya.

Setelah Simbah Busthomi besar kemudian hijrah dari Kebumen ke wilayah Cilacap bagian barat tepatnya Desa Cisuru, Kecamatan Cipari. Alasannya karena di Grumbul Lengkong/Wonoresik kala itu belum ada seorang kiai yang intes kedunia pendidikan agama, penduduk Grumbul Wonoresik lebih tertarik kepada perdagangan daripada dunia pendidikan agama Islam, sehingga Grumbul Wonoresik tidak melahirkan tokoh agama yang mampu membimbing warganya memperdalam ilmu agama, tentunya berbeda pada saat buku ini disusun, penyusun menyaksikan sendiri bahwa di grumbul wanaresik saat ini telah berdiri megah masjid dan pondok pesantren.

Mendirikan Pesantren

Maka segeralah Beliau mewujudkan programnya, pada tahun itu juga dibagun Masjid Al-Muttaqin yang cukup fundamental, laksana menara pemanggilan seruan Ilahiyah lambat tahun Way Lunik menjadi ramai oleh tamu-tamu yang berdatangan hendak menimba hakikat Ilahiyah melalui Baiat Thoriqoh.

Kegiatan bulanan yang jatuh pada tiap malam pada tanggal 11 bulan Qomariyah (Welasan), kemudian juga diadakan peringatan akbar tahunan yang jatuh pada tanggal 11 Robi’utsani , atau sering disebut dengan sebutan Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang selalu digelar, sebagai ajang silaturrahmi dan ajang mendakwahkan Islam melalui nasehat-nasehat agamanya sekaligus memberikan tausiyah wejangan-wejangan tasawufnya melalui kegiatan Tawajjuhan atau Khataman. Jama’ah terus berdatangan dan tidak ketinggalan anak-anak muda yang ingin mengaji dan tabarukan dari tanah Jawa dan Sumatera juga semakin tahun semakin meningkat.

Maka untuk menampung anak-anak muda tersebut pada tahun 1971 sepulang dari Makkah guna menjalankan Ibadah Haji dianugrahi nama baru menjadi “Nur Muhammad Abdurrohim Busthamil Karim”. Akhirnya Beliau mendirikan Pondok yang diberi nama Pondok Pesantren Roudlotussholihin.

Pada dekade tahun tujuh puluhan ini, beliau banyak membai

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+