KH. Maftuh Said Ulama Nahdlatul Ulama Malang Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
3.2 Kiprah
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Maftuh Said lahir pada tahun 1950 di Tepi Bengawan Solo, tepatnya di Desa Ngaren, Bungah, Gresik. Beliau merupakan putra pertama dari 13 bersaudara dari pasangan KH. Said Muin dan Nyai Hj Mardliyah.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Maftuh Said melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Hj. Marfuatun, putri KH. Mahfudz, dari Kepanjen Malang. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai satu putra dan dua putri. Anak-anak beliau, diantaranya Nurul Hafshah, Muhammad Agus Fahim dan Hanifah Sa’diyyah.
1.3 Wafat
KH. Maftuh Said wafat pada usia 67 tahun atau bertepatan sekitar pukul 22.30 WIB, hari Minggu 20 Agustus 2017. Jenazah beliau dimakamkan pada hari Senin 21 Agustus 2017 pukul 10.00 WIB, di Pemakaman Khusus Keluarga Besar Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah.
Beliau meninggal dunia di kediaman, di Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah, Desa Sudimoro, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Maftuh Said memulai pendidikannya dengan belajar di Sekolah Rakyat (SR) di Bungah Gresik. Namun, hanya sampai kelas empat saja. Karena beliau lebih memilih untuk menyelesaikan Al-Qur’an kepada sang ayahnya. Akhirnya beliau berhasil untuk menyelesaikannya pada usia 9 tahun.
Keluarga KH. Maftuh Said memang tergolong Usratul Huffadz, yaitu keluarga para penghafal Al-Qur'an. Ayah Kyai Maftuh, Kyai Said, memang sangat keras ketika mendidik putra-putrinya dalam menghafal Al-Qur'an. Hasilnya, 13 bersaudara Kyai Maftuh mampu menghafal Al-Qur'an 30 juz.
Julukan sang ayah sebagai asadul Al-Qur-an atau harimaunya Al-Qur-an juga menurun kepada Kiai Maftuh ketika mengajarkan hafalan Al-Qur'an.
Metode Tahfidzil Qur'an Kyai Said menginspirasi para pengasuh pondok se-Indonesia untuk memohon doa restu dan izin untuk membuka lembaga penghafal Al-Qur’an di pelbagai tempat. Salah satunya adalah Pengasuh PP. Al-Amien, KH. Mohammad Idris Djauhari, pengasuh Ma’had Tahfidz Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura.
Setelah selesai menghafalkan Al-Qur’an, KH. Maftuh Said melanjutkan pendidikannya dengan mondok di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri. Di pondok tersebut beliau tempuh selama 9 tahun.
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
Setelah menikah, pada awalnya KH. Maftuh Said ikut bersama mertuanya yaitu tinggal di Kepanjen. Cukup lama beliau hidup bersama mertuanya, akhirnya membuat KH. Maftuh Said ingin mandiri, pada pertengahan tahun 1980-an, bersama ketiga putra-putrinya, beliau pindah ke Desa Sudimoro.
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

