Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Sirojuddin Abbas Minangkabau
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Sirojuddin Abbas Minangkabau

1905 – 1980 M · 9.980 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Sirajuddin Abbas Minangkabau lahir pada tanggal 20 Mei 1905, di kampung Bengkawas, Kabupaten Agam, Bukit tinggi, Sumatra Barat. Beliau merupakan putra sulung dari seorang Qadhi, Syaikh Abbas bin Abdi Wahab bin Abdul Hakim Ladang lawas dan Ramalat binti Jai Bengkawas.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Karya-Karya

4.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Sirajuddin Abbas Minangkabau lahir pada tanggal 20 Mei 1905, di Kampung Bengkawas, Kabupaten Agam, Bukit tinggi, Sumatera Barat. Beliau merupakan putra sulung dari seorang Qadhi, Syekh Abbas bin Abdi Wahab bin Abdul Hakim Ladang Lawas dan Nyai Ramalat binti Jai Bengkawas.

1.2 Wafat
KH. Sirajuddin Abbas wafat di usia 75 tahun pada tanggal 5 Agustus 1980 setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo akibat serangan jantung yang diderita. Saat pemakaman tampak perhatian warga Tarbiyah yang begitu besar. Jasadnya dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir Jakarta Selatan. Dan prosesi pemakaman saat itu juga dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, Adam Malik.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

KH. Sirajuddin Abbas memulai pendidikannya dengan belajar Al-Qur’an pada ibunya hingga berusia 13 tahun. Setelah itu beliau belajar kitab-kitab berbasaha Arab pada ayahnya selama tiga tahun.

Selama enam tahun berikutnya, beliau belajar kepada para ulama di Bukittinggi dan sekitarnya, seperti Syekh Husen Pekan Senayan Kabupaten Agam, Tuanku Imran Limbukan Payakumbuh Limapuluh Kota, Syekh H.Qasem Simabur Batu Sangkar Tanah Datar, Syekh Muhammad Zein di Simabua, Batu Sangkar dan Syekh H. Abdul Malik di Gobah, Ladang Laweh.

Tahun 1927 beliau belajar di Tanah Suci. Di tempat ini KH. Sirajuddin Abbas berguru kepada beberapa ulama di Masjidil Haram seperti :

  1. Syaikh Muhammad Said Yamani (Mufti Mazhab Syafi'i) mempelajari ilmu fiqih dalam Mazhab Syafi'i dari kitab Al-Mahalli.
  2. Syaikh Husen Al-Hanafi (Mufti Mazhab Hanafi) mempelajari ilmu hadis dari kitab Shahih Bukhari.
  3. Syaikh Ali Al-Maliki (Mufti Mazhab Maliki) mempelajari ilmu usul fiqih dari kitab Al-Furuq.
  4. Syaikh Umar Hamdan, darinya Kyai Abbas mempelajari kitab Al-Muwatha' karangan Imam Malik.

KH. Sirajuddin Abbas tinggal di Makkah sampai tahun 1933. Pada tahun 1930 beliau diangkat menjadi Staff Sekretariat pada Konsultan Nedherland di Arab Saudi. Pengetahuan agamanya yang sangat luas dan penguasaannya terhadap Bahasa Arab yang fasih mengantarkannya ke jenjang nasional dan internasional di ranah politik perjuangan bangsa Indonesia.

Sekembalinya dari Makkah tahun 1933, beliau mengambil dan menerima macam-macam ilmu pengetahuan agama dari Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Cadung, Bukittinggi.

Selain itu, KH. Sirajuddin Abbas juga belajar Bahasa Inggris kepada seorang guru yang berasal dari Tapanuli yaitu Ali Basya. Tiga tahun pertama di kampung ia dikenal sebagai muballigh muda yang potensial sehingga menarik minat para ulama senior yang bergabung dalam Persatuan Tarbiyah Indonesia, organisasi keagamaan satu-satunya yang ada di Bukitinggi.

Ketika berlangsung Kongres Ketiga organisasi tersebut di Bukit tinggi tahun 1936 tak ayal lagi beliau pun terpilih sebagai Ketua Umum Tarbiyah. Ternyata pilihan itu tidak salah, di tangan beliau Tarbiyah semakin berkembang. Bahkan organisasi

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+