Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Ahmad Yasin Gedongan
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Ahmad Yasin Gedongan

lahir 1910 M · 10.808 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Ahmad Yasin Gedongan adalah ulama NU.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Ahmad Yasin Gedongan

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Pengasuh Pesantren
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  7. Teladan
  8. Chart Silsilah Sanad

Kelahiran

KH. Ahmad Yasin atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Yasin lahir pada tahun 1910 M, di Desa Padjajar Kecamatan Rajagaluh Kabupaten Majalengka. Beliau merupakan putra pertama dari lima bersaudara, dari pasangan Kiai Mahdor dan Ny. Suaibah

Ketiga saudara KH. Yasin wafat mendahuluinya. Sehingga putra Kiai Mahdor yang tersisa hanya dua putra yaitu KH. Yasin dan Kiai Toyib, namun tidak lama kemudian Kiai Toyib wafat terlebih dahulu.

Ayah beliau merupakan seorang kepala desa pada masa itu dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang selalu membantu Kiai Mahdor dalam kesehariannya.

Wafat

Pada tahun 1996 kesehatan KH. Yasin menurun, namun rasa sakit yang ia rasakan tidak menghalanginya untuk tetap aktif sebagai tenaga pengajar di Pesantren Gedongan.

KH. Yasin menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1996. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman umum Pesantren Gedongan bersama sesepuh lainnya yang telah lama wafat. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi isteri tercinta, putra dan puterinya, para santri, masyarakat Gedongan dan sekitarnya.

Keluarga

Karena kealiman ilmunya, KH. Ahmad Yasin dijodohkan dengan Nyai Sholihah, putri keempat KH. Siraj. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 9 putra dan putri.

Pendidikan

Sejak kecil KH. Yasin telah dididik oleh kedua orang tuanya dengan harapan agar KH. Yasin menjadi orang yang berguna bagi agama dan masyarakat. Dari riwayat pendidikannya, diketahui bahwa KH. Yasin kecil pernah bersekolah di volkshool (Sekolah Dasar Belanda) di desanya sendiri. Pendidikan formalnya terhenti dan ia lebih memilih melanjutkan pendidikannya di pesantren terutama pesantren di Jawa.

Pendidikan pesantren KH. Yasin dimulai di Pesantren Kempek selama satu tahun, dimana pondok pesantren ini adalah milik pamannya. Setelah itu, ia melanjutkan ke pesantren di Pekalongan dan belajar kepada Kiai Amir selama dua tahun, selesai mondok di Pesantren Pekalongan ia melanjutkan untuk menimba ilmu di Jombang dan belajar kepada KH. Hasyim Asy’ari.

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantrennya ia kembali ke pondok pamannya yaitu di Kempek, dengan mengabdi dan menjadi tenaga pengajar saat itu. Dalam beberapa tahun selama mondok di Pesantren Kempek ia mempunyai sahabat tedekatnya yaitu Kiai Maksum putra Kiai Siraj, kedekatannya dengan Kiai Maksum menjadikan keakraban bagi keduanya hingga pada suatu hari Kiai Maksum meminta kepada KH. Yasin untuk ikut bersamanya dan membantunya sebagai tenaga pengajar di Pesantren Gedongan.

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantrennya, ia kembali ke Pondok Pesantren Kempek tempat di mana pamannya yaitu Kiai Harun, Kiai Harun adalah salah satu Kiai di

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+