H. Mahbub Djunaidi adalah jurnalis, wartawan, aktivis, dan ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Kisah Masa Kecil
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Karier
3.2 Menulis Sarat Humor
3.3 Pernah Dipenjara Gara-Gara Tulisan
4. Karya-Karya
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
H. Mahbub Djunaidi lahir pada tanggal 27Juli 1933 atau 3 Rabiul Akhir 1352 H di Jakarta. Beliau merupakan anak pertama dari 13 bersaudara dari pasangan H. Muhammad Djunaidi (Anggota DPR hasil pemilu tahun 1955) dan Ibu Muchsinati.
1.2 Wafat
H. Mahbub Djunaidi wafat pada tanggal 1 Oktober 1995 di Bandung dan dimakamkan di Jalan Soekarno-Hatta Gang Assalam No.41, Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jawa Barat.
1.3 Kisah Masa Kecil
Kalau kita baca novelnya, Dari Hari ke Hari, kita akan tahu bagaimana masa kecilnya. H. Mahbub kecil menghabiskan masa kecilnya di Kampung Kauman, Solo. Beliau bergaul dengan anak-anak kampung, tapi uniknya juga sering bermain bola dengan Raja Solo.
Meski demikian, banyak yang mengakui bahwa sebelum terkenal sebagai seorang penulis ulung, bakat menulis H. Mahbub Dunaidi sudah terasah sejak kecil. Mulanya berawal dari hobi, tapi ketekunan dan keseriusannya membuahkan hasil, membuat dirinya menjadi seorang penulis yang sangat terkenal dan banyak yang mengagumi kepiawainya.
Saat berusia 13 tahun, H. Mahbub turut merasakan pahit getirnya revolusi Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaan. Beliau ikut hijrah meninggalkan tanah kelahirannya, Tanah Abang, Jakarta. Kondisi harus diterimanya sebab ayahnya, H. Muhammad Djunaidi adalah seorang pegawai negeri, yang oleh jawatannya disediakan rumah di Solo. Dan di kota inilah keluarganya harus berpindah.
Sebelumnya, ayahnya berencana mengirim H. Mahbub kecil ke sebuah pesantren di Lasem. Karena situasi darurat, niat itu urung. Akhirnya dibimbing secara ketat oleh ayahnya sendiri. H. Mahbub memang berasal dari keluarga yang taat beragama.
Neneknya, penceramah agama yang berkeliling dari satu majelis ke majelis lainnya. Ayahnya, tokoh NU yang ketika zaman Jepang melarang seikerei sampai 45 derajat. Dari hari ke hari, Mahbub kecil menyimak dan melewati masa revolusi fisik Indonesia dari tahun 1946-1949.
Berbagai peristiwa terjadi. Belanda datang lagi dibonceng tentara sekutu. Niat awal mereka adalah melucuti tentara Jepang yang kalah perang. Tapi kenyataannya mereka ingin berkuasa kembali. Perlawanan terjadi di mana-mana. TKR terus bergerilya. Sementara masyarakat sipil membentuk kesatuan laskar, seperti Laskar Hizbullah yang dipimpin oleh KH. Zainul Arifin dan Laskar Sabilillah pimpinan KH. Masykur.
Di sisi lain, benaknya yang kecil, mulai tumbuh pertanyaan, kenapa situasi negeri ini demikian sengsara. Kemakmuran, kesuburan, alih-alih jadi kesenangan, malah berbuah kesengsaraan. Hasil bumi dikeruk bertahun-tahun. Keringat rakyat diperas layaknya gombal atau kain lusuh yang sudah lama tidak dicuci.
H. Mahbub diam-diam mempertanyakan, setelah merdeka diraih kenapa harus ada Perjanjian Linggarjati dan Renville? Apakah pemimpin republik ini tidak belajar sejarah? Bukankah dari dulu Belanda a
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

