Berkat keluasan dan kedalaman ilmunya, Syekh Abdul Malik pernah memperoleh dua anugrah yakni pernah diangkat menjadi Wakil Mufti Madzab Syafi’i di Makkah dan juga diberi kesempatan untuk mengajar.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Mursyid Thariqoh
3.2 Amalan Syekh Abdul Malik
3.3 Dekat dengan Habaib
3.4 Masa Penjajahan
4. Teladan
5. Pesan Syekh Abdul Malik
6. Karya-Karya
7. Chart Silsilah Sanad
8. Referensi
1. Riwayat Keluarga
1.1 Lahir
Syekh Muhammad Ash’ad bin Muhammad Ilyas atau yang akrab dengan sapaan Syekh Abdul Malik Kedung Paruk lahir pada hari Jumat, 3 Rajab tahun 1294 H atau bertepatan pada tahun 29 April 1877 M (jika dikonversikan), di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Secara nasab beliau merupakan keturunan Pangeran Diponegoro berdasarkan “Surat Kekancingan” (semacam surat pernyataan kelahiran) dari Pustaka Kraton Yogyakarta dengan rincian Muhammad Ash’ad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas bin Raden Mas Haji Ali Dipowongso bin HPA. Diponegoro II bin HPA. Diponegoro I (Abdul Hamid) bin Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III Yogyakarta. Nama Abdul Malik diperoleh dari sang ayah ketika mengajaknya menunaikan ibadah haji bersama.
1.2 Keluarga
Syekh Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas menikahi tiga orang istri. Istri pertamanya adalah Nyai Hajjah Warsiti binti Abu Bakar yang lebih dikenal dengan nama Mbah Johar. Seorang wanita terpandang, putri gurunya, Kyai Abu Bakar bin KH. Yahya Kelewedi Ngasinan, Kebasen. Istri pertama ini kemudian dicerai setelah dikaruniai seorang anak lelaki bernama Kyai Ahmad Busyairi (wafat tahun 1953, pada usia sekitar 30 tahun).
Ada sebuah cerita unik tentang putra pertamanya ini. Ahmad Busyairi adalah seorang pemuda yang meninggal dunia sebelum sempat menikah. Suatu hari Syekh Abdul Malik berkata padanya, “nak, besok kamu menikah di surga saja ya?” Mendengar ayahnya bertutur demikian, muka Busyairi terlihat ceria dan hatinya merasa sangat gembira. Beberapa waktu kemudian, ia meninggal sebelum berkesempatan menikah.
Istri kedua Syekh Abdul Malik adalah Mbah Mrenek, seorang janda kaya raya dari Desa Mrenek, Maos Cilacap. Istimewanya, suatu hari Syekh Abdul Malik hendak menceraikannya, namun Mbah Mrenek berkata, “Pak Kyai, meskipun Panjenengan (Anda) tidak lagi menyukai saya, tapi tolong jangan ceraikan saya. Yang penting saya diakui menjadi istri Anda, dunia dan akhirat.” Mendengar permintaan ini, Syekh Abdul Malik pun tidak jadi menceraikannya.
Sedangkan istri ketiganya adalah Nyai Hj. Siti Khasanah, seorang wanita cantik dan sholihah, tetangganya sendiri. Pernikahan ini, dikaruniai seorang anak perempuan bernama Nyai Hj. Siti Khairiyyah yang wafat empat tahun sepeninggal Syekh Abdul Malik. Dari putrinya inilah nasab Syekh Abdul Malik diteruskan.
1.3 Wafat
Syekh Abdul Malik wafat pada hari Kamis, 21 Jumadil Akhir 1400 H atau yang bertepatan dengan 17 April 198
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

