KH. Nur Salim Lamongan adalah ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Nur Salim Lamongan
Kelahiran
KH. Nur Salim dilahirkan di Desa Tritunggal, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Keluarga
Kiai Nur Salim melepas masa lajangnya dengan menikahi Kasiyat putri H Siroj atau Kamso. Cerita pernikahan ini berawal saat ia pulang dari nyantri di Pesantren Tebuireng Jombang dan Pesantren Sidogiri Pasuruan. Saat itu H Siroj sangat terkesan dengan sosok santri yang sudah dikenal sifat bagus dan kealimannya, sehingga kemudian dinikahkan dengan anaknya.
H Siroj juga sangat mendukung menantunya, baik secara mental maupun material dalam langkah perjuangan KH. Nur Salim. KH. Nur Salim memiliki 11 putra-putri, yaitu Ghozi (meninggal waktu kecil), Ashari (meninggal waktu kecil), Abdul Kholiq, Abdul Wahid (meninggal waktu kecil), Hasyim Bisyri, Hasan Bisyri, Siti Aminah, Masda'i, Ni'mah, Muhsin, dan Abdullah Munif.
Salah satu putranya yang bernama KH. Abdul Kholiq kemudian hari kelak menjadi tokoh ulama yang mendedikasikan dirinya untuk Nahdlatul Ulama (NU) KH. Abdul Kholiq tercatat pernah menjadi Wakil Rais Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Babat tahun 1980 dan Rais MWC NU Babat tahun 1985.
Kemudian menjadi Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan. Hingga akhirnya menjadi Rais PCNU Lamongan, menggantikan KH. Abdullah Iskandar. Pernah juga menjadi Ketua Pengurus Cabang Rabithah Ma'ahidil Islamiyah (RMI) NU Lamongan.
Mendirikan Pesantren
Pada awalnya, KH. Nur Salim tidak berkehendak mendirikan pesantren secara institusi seperti umumnya santri KH. Hasyim Asy'ari saat itu. Ia cukup mendirikan mushala untuk berjamaah dan mengajar ngaji bagi masyarakat yang membutuhkannya. Itupun masih sangat sederhana, ngaji sorogan, bandongan sampai ia wafat pada tanggal 09 Ramadhan 1386 H atau 22 Desember 1966 M.
Dalam berdakwah, Kiai Nur Salim banyak dibantu oleh putranya KH. Abdul Kholiq. Suatu hari KH. Abdul Kholiq berkeinginan mendirikan madrasah akan tetapi masih kurang direspon oleh ayahnya. Saat itu sang ayah mengatakan "Liq, gawe madrasah opo maneh ngopeni teruse iku abot, wis sing penting kapan ono sing njalok wulang ngaji yo diulang (kalau buat madrasah apa lagi mengurusinya itu berat, yang penting kapan ada yang minta diajar ngaji ya diajar)".
"Begitulah karakter KH. Nur Salim yang tidak ingin neko-neko (ambil resiko)," ujar pria yang akrab disapa Gus Falah ini.
Seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan keadaan masyarakat, banyak yang mendesak KH. Abdul Kholiq untuk mendirikan pesantren, di antaranya KH. Ahmad Marzuqi Zahid dan KH. Abdulloh Faqih pengasuh Pesantren Langitan. Waktu sowan ke KH. Ahmad Marzuqi Zahid dan KH. Abdullah Faqih oleh KH. A Marzuqi Zahid, Kiai Kholiq dikatakan kiai yang tidak pantas.
Kemudian ia memberanikan diri bertanya kepada Kiai Marzuqi "Apa maksud kiai yang tidak pantas, yai? ". Jawab Kiai Marzuqi "Kamu itu alim, kamu tidak pantas kalau tidak punya pondok" lalu Kiai Marzuqi menyuruh untuk mendiriikan pesantren. Hal ini kemudian dihaturkan ke romo KH. Abdullah Faqih, oleh KH. Abdullah Faqih, rencana tersebut didukung bahkan diberi modal uang untuk segera membangunnya.
Namun baru setelah benar-benar yakin dan mantap, tepat pada tanggal 1 Rabiul Awwal 1406 H atau 14 November 1985 M dibentuklah panitia pembangunan pondok yang diber
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

