Mbah Dimyathi Rembang adalah ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil Mbah Dimyathi Rembang
- Kelahiran
- Pendidikan
- Mengasuh Pesantren
- Menyebarkan Agama Islam
- Mendirikan Masjid
- Pendiri NU di Wilayah Rembang Timur
Kelahiran
KH. Dimyathi atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Dimyathi lahir sekitar tahun 1880 di Rembang, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra pertama dari dua bersaudara, dari pasangan dari KH Muslim dan Mbah Siti Jiddah. Saudara kandung beliau adalah KH. Ma'shum.
Pendidikan
Mbah Dimyathi memiliki segudang ilmu dengan sejarah nyantri yang cukup panjang. Di Pondok Pesantren Sarang, Kabupaten Rembang, beliau mengaji hingga 10 tahun lamanya. Dilanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, selama 3 tahun. Setelah 13 tahun di Pulau Jawa, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu ke Makkah Al-Mukarramah. Di Makkah beliau menuntut ilmu selama 6 tahun.
Di sela-sela senggang waktu mengaji, ia memanfaatkan waktunya untuk nderes (membaca kitab berulang-ulang). Selain itu, sesekali beliau juga membacakan kitab kepada beberapa santri yang ada di sana. Salah satu santri Mbah Dimyathi adalah Sayyid Hamzah Asy-Syatho (yang makamnya sekarang berada di Desa Sidorejo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang).
Enam tahun telah dilalui beliau untuk belajar ilmu agama di Makkah, sekembalinya dari Makkah Mbah Dimyathi mendirikan sebuah masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung sebagai tempat mengaji bersama santri-santrinya di Desa Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang.
Beberapa tahun kemudian, Sayyid Hamzah Asy-Syatho yang merupakan salah satu santri beliau saat di Makkah datang ke tanah Jawa. Sayyid Hamzah Asy-Syatho hendak menengok keadaan sang guru, dan ingin mengetahui keadaan kediaman beliau.
Sesampainya Sayyid Hamzah Asy-Syatho di Desa Gandrirojo, maka bertemulah dengan sang guru. Saat melihat keadaan masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung (Joglo) tersebut, Sayyid Hamzah Asy-Syatho tidak rela akan hal itu, karena Sayyid Hamzah Asy-Syatho mengaggap bahwa Mbah Dimyathi adalah sosok ulama yang mempunyai ilmu besar dan mampu untuk menjadi panutan. Ia pun minta izin kepada Mbah Dimyathi untuk mendirikan Masjid yang lebih besar lagi.
Dengan upaya dan jerih payah Sayyid Hamzah Asy-Syatho dalam mewujudkan keinginannya tersebut, terwujudlah bangunan masjid yang megah dan berdiri kokoh hingga saat ini, yaitu Masjid Desa Gandrirojo yang posisinya diapit oleh dua pondok, pondok yang diasuh oleh KH. Sahlan M Nur (sebelah selatan) dan pondok yang diasuh oleh KH. Fahrurrozi Almarhum (sebalah utara).
Mengasuh Pesantren
Sepulang dari Makkah, Mbah Dimyathi mengajarkan ilmu agama kepada beberapa santri yang ada di pesantrennya. Kitab-kitab yang diajarkan terdiri dari semua aspek ilmu agama, mulai dari ilmu fiqih, tasawuf, hingga tauhid.
Di antara santri-santri beliau yang telah menunjukkan kiprahnya di antaranya KH. Mawardi Gandrirojo, KH. Ghozali Gandrirojo, KH. Dahlan Blora (Syuriah PCNU Blora), Mbah Basyir Kajen, KH. Tamlihan Pamotan, Kiai Syuaib Plawangan, KH. Sidiq Narukan, KH. Marzuki Sendangwaru, Kiai Syamsuri Sendangmulyo, Kiai Mashum Kopek, Kiai Suhini Menoro, KH. Suyuti Menoro, KH. Maskur Jambeyan, Kiai Abdul Rohim Kumbo, KH. Darkum Gambiran, KH. Maskur Ga
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

