Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Sulaeman
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Sulaeman

1871 – 1943 M · 8.262 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Sulaeman beliau adalah ulama kharismatik dari Banten dan sosok ulama yang tegas dalam penyampaian fiqih, dan beliau lebih mementingkan kemaslahatan umum.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.         Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2.         Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3.         Penerus
3.1       Anak-Anak

4.         Karier
5.         Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Sulaeman dilahirkan pada tahun 1871 di Kampung Kelapadua, Desa Kagungan, Kecamatan Serang, Kota Serang Banten. Dari pasangan H. Madiereu Bin Mahrum dan Nyai Arsiyah binti Ki Kam bin Ma’wun bin Muhammad bin Naim bin Ki Damang, setelah menikah dan tinggal di Kampung Kelapadua, pasangan H. Madiereu memiliki tujuh orang putra dan putri, empat laki-laki dan tiga perempuan. KH. Sulaeman merupakan anak bungsu dari ke-tujuh bersaudara, di antaranya:
1. H. Adam
2. Nyai, Hj. Bah
3. H. Khotib
4. Nyai Juleha
5. H. Musthofa
6. H. Ja’far
7. KH. Sulaeman

1.2 Riwayat Keluarga
KH. Sulaeman kemudian menikah dengan istri pertamanya yang bernama Aisyah dari Sukalila dan istri keduanya Asyikoh dari Cantilan. Istri pertama mempunyai dua orang anak yaitu:
1. H. Ishaq bin KH. Sulaeman
2. H. Adra’i bin KH. Sulaeman

Istri kedua mempunyai lima orang anak empat peremuan dan satu laki-laki, yaitu:
1. Hj. Hamdanah binti KH. Sulaeman
2. Hj, Ruhanah binti KH. Sulaeman
3. Hj. Hasanah binti KH. Sulaeman
4. Hj. Rohayah binti KH. Sulaeman
5. H. Sunal Murad bin KH. Sulaeman

Dari ke tujuh anaknya tersebut, KH. Suleaman mengharapkan anaknya menjadi anak yang mempunyai Ilmu Agama dan mencari ilmu di pesantren. Dalam memberikan pendidikan agama pada putra-putrinya banyak yang ditangani sendiri. Sejak mereka kecil sudah terbiasa mengaji dan mempelajari ilmu. Perhatian itu juga dirasakan oleh cucu-cucunya yang juga banyak diajarkan ilmu agama seperti belajar Al-Qur'an dan ilmu-ilmu lainnya.

1.3 Wafat
KH. Sulaeman meninggal dunia pada tanggal tanggal 2 Jumadil Akhir tahun 1362 H di usia 70 tahun, beliau berpesan makamnya kelak agar tidak dikurung dan dikeramatkan sebab beliau tidak mau seolah-olah makamnya milik sendiri. Hai ini membuat kesedihan yang mendalam bagi keluarga dan khususnya masyarakat Serang, karena KH. Sulaeman dalam kehidupan sehari-harinya beliau selalu berbincang-bincang dengan masyarakat. KH. Sulaeman dikebumikan di Kampung Cantilan tepatnya di makam keluarga.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Sejak kecil KH. Sulaeman telah mendapatkan pendidikan pertama yaitu pengajaran mengenai ajaran-ajaran agama Islam tingkat dasar seperti membaca Al-Qur'an, fiqih, akhlak, dari ayahnya sendiri yaitu H. Madiereu. Meski ayah beliau bukan seorang kyai besar, KH. Sulaeman tetap mendapatkan pengajaran agama, karena beliau ingin KH. Sulaeman menjadi anak yang pandai dalam bidang agama. Berkat kecerdasannya dan keuletan beliau dalam belajar KH. Sulaeman semakin menguatkan tekadnya lebih rajin dan tekun ibadah. Setelah belajar dari ayahnya sendiri, KH. Sulaeman melanjutkan pendidikannya ke Pesant

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+