KH. Khudlori Tabri beliau adalah ulama kharismatik dari Simbang kulon Buaran Pekalongan
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-guru
2.3 Mengasuh Pesantren
3 Karier dan Karya
3.1 Karier
3.1 Karya
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Romo KH. Khudlori Tabri lahir pada Rabu, 3 Februari 1932, di Kelurahan Simbangkulon, Buaran, Pekalongan. Beliau merupakan putra dari Tabri, dan dikenal sebagai sosok ulama yang berwibawa, sederhana, serta sabar. Kesadaran beliau akan pentingnya ilmu sangat kuat, tercermin dari kegigihannya mendidik putra-putri dan para santri dengan penuh kesungguhan warisan keteladanan yang patut dijadikan inspirasi.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Khudlori Tabri menikah pertama kali dengan Hj. Nadloriyah dan dikaruniai delapan anak:
- Khoiriyah (almh)
- Azizah (almh)
- Latifah (almh)
- Makhfudz (alm)
- Dr. KH. Muslih, M.Si – menikah dengan Hj. Khamidah, dikaruniai empat anak
- KH. Mahrus S.Pd.I, M.Pd.I – menikah dengan Hj. Sri Khoiriyah, dikaruniai tiga anak
- Ust. Khafidz – menikah dengan Aini Sakinah, dikaruniai dua anak
- Maftuhin – menikah dengan Rustianah
Setelah wafatnya Hj. Nadloriyah pada 1979, beliau menikah kembali dengan Hj. Farkhati, putri KH. Fadlun Mufti. Dari pernikahan ini lahir tujuh anak:
- H.M. Nurul Haq, Lc., M.Pd.I – menikah dengan Nur Faidah
- Faynusah, S.Pd.I – menikah dengan Udin Zaenudin, S.Pd.I
- Ahmad Lukman Hakim
- Lailatul Zulfa, S.Pd
- Nur I’anah, S.Pd.I
- Ahmad Fadlun
- Nur Rohmah (almrh)
1.3 Wafat
KH. Khudlori Tabri wafat pada Rabu pagi, 8 Dzulhijjah 1420 H atau 15 Maret 2000 M, usai melaksanakan salat Subuh. Beliau menghembuskan napas terakhir di RS Kraton Pekalongan.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Sejak kecil, KH. Khudlori Tabri tumbuh sebagai pribadi cerdas, mandiri, dan pekerja keras. Hidup dalam keluarga sederhana membentuknya menjadi anak yang tekun dan tidak manja. Saat menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI), ia bersekolah sambil berjualan kerupuk, serta membantu ibunya berdagang daging dan sayur pada siang hari.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, beliau melanjutkan studi ke Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, di bawah asuhan Almaghfurlah KH. Ru’yat. Beliau mulai nyantri sekitar tahun 1951 M dan menetap di pesantren tersebut selama kurang lebih enam setengah tahun.
2.2 Guru-guru
Guru-guru beliau saat menuntut ilmu, di antaranya:
a. Kiai Tabri
b. KH. Ru’yat
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

