Sunan Kapasan adalah tokoh yang jarang disebutkan dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah satu pelopor penyebaran Islam di Jawa. Sunan Kapasan merupakan salah satu tokoh kunci proses Islamisasi di tanah jawa yang hidup pada jaman Walisongo yang mampu menembus dinding kebesaran kerajaan Majapahit
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga Sunan Kapasan
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Sunan Kapasan
2.1 Guru-guru Sunan Kapasan
3. Perjalanan Dakwah Sunan Kapasan
4. Keteladanan Sunan Kapasan
5. Referensi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Sunan Kapasan lahir di Campa (Kambodja). Beliau adalah sepupu dari Sunan Ampel ( Ali Rahmatullah) dan Ali Murtadho. Beliau terlahir dengan nama Abu Hurairah
1.2 Riwayat Keluarga Sunan Kapasan
Beliau dinikahkan dengan putrid seorang pengrajin kapas yang bernama Samirah
1.3 Nasab Sunan Kapasan
Sunan Kapasan adalah Putra dari Raja Campa Adik dari Ibu Sunan Ampel dan Raden Santri Ali Murtadho
1.4 Wafat
Sunan Kapasan dimakamkan di kompleks makam Sentono Agung Boto Putih di Jalan Pegirian. Kompleks makam ini merupakan kompleks makam sunan dan para bangsawan (adipati) di Surabaya.
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Sunan Kapasan
2.1 Guru-guru Sunan Kapasan
- Syekh Ibrahim Asmoroqondi
- Sunan Ampel
3. Perjalanan Dakwah Sunan Kapasan
Setelah hampir dua puluh tahun sudah Syekh Ibrahim Asmoroqondi berada di tanah Campa. Dengan istri keduanya, ia dikaruniai dua orang putra yang diberi nama Ali Murtadlo dan Ali Rahmatullah. Pada sekitar tahun 1404 Sunan Kapasan ikut dengan rombongan Syekh Ibrahim Asmoroqondi beserta kedua putranya meninggalkan bumi Campa menuju ke Jawa.
Mereka berlayar menggunakan perahu menyusuri pantai Sumatra hingga akhirnya mereka singgah di pelabuhan Palembang. Di Palembang rombongan kecil tersebut disambut oleh Adipati Arya Damar. Dia sebenarnya adalah salah satu pangeran dari Majapahit dan diangkat sebagai penguasa Palembang, yang menguasai wilayah bawahan Majapahit.
Setelah bicara basa-basi cukup lama Syekh Ibrahim Asmoroqondi mulai berbincang-bincang tentang keyakinan yaitu agama Hindu dan Islam dengan mendasari ilmu tasawuf, ilmu spiritual Islam yang memang banyak memiliki titik kesesuaian antara dua keyakinan tersebut. Hingga akhirnya adipati Palembang Arya Damar tergerak hatinya untuk masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan Raden Arya Damar diberi nama baru Oleh Syekh Ibrahim Asmoroqondi menjadi Arya Abdillah yang bermakna Kesatria Abadi Tuhan.
Setelah tiga bulan berada di Palembang. Akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju ke tanah Jawa dengan menggunakan kapal. Karena kapal yang mereka tumpangi adalah kapal dagang maka mereka sempat singgah di beberapa pelabuhan antara lain :Banten, Bandar Sunda Kelapa, karawang, Cirebon, Semarang dan Jung Mara. Hingga akhirnya mereka sampai di pelabuhan Tuban yang tak kalah ramainya dengan pelabuhan Palembang.
Sejak abad ke-11 tuban nampaknya sudah menjadi pusat perdagangan internasonal, khusunya pada masa Airlangga. Dalam sebuah prasasti yang dikeluarkan pada masa itu disebutkan bahwa kerajaan Airlangga memiliki dua pelabuhan niaga yaitu Hujung Galuh dan Kambangputih. Dalam prasasti tersebut disebutkan orang-orang asing yang berdagang yaitu
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

