Syekh Syamsuddin al-Wasil seorang ulama Islam yang datang dari negeri seberang. Historiografi Jawa menyebut : Syekh Syamsuddin al-Wasil berasal dari Negeri Persia atau biasa diucapkan Ngerum atau Rum. Beliau datang ke Kediri, menghadap ke hadapan Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya (Raja Kerajaan Kediri)
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
4. Perjalanan Dakwah Syaikh Syamsuddin al-Wasil
5. Keteladanan Syaikh Syamsuddin al-Wasil
7. Referensi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Syekh Syamsuddin al-Wasil lahir sekitar abad 12 M sebagai ulama besar asal Negeri Ngerum/ Rum ( Persia). Beliau mempunyai beberapa nama lain diantaranya :
- Pangeran Makkah
- Pangeran Arab
- Pangeran Ngerum
- Syekh Wasil
- Mbah Wasil
- Raja Pandhita
- Maulana Ngali Syamsujen atau Maulana Ali Syamsuddin
1.2 Wafat
Makam Syaikh Syamsuddin al-Wasil terletak di kompleks makam Setana Gedong, Kediri. Kompleks makam ini terletak di dalam Kota Kediri, tepatnya di pusat kota yang bisa dicapai dari Jalan Dhoho belok ke kanan, masuk kampung Setana Gedong. Sekitar 100 meter dari ujung kampung, terletak Masjid Setana Gedong. Kompleks makam Syaikh Syamsuddin al-Wasil terletak di barat laut masjid.
2. Perjalanan Dakwah Syekh Syamsuddin al-Wasil
Syekh Syamsuddin al-Wasil seorang ulama Islam yang datang dari negeri seberang. Historiografi Jawa menyebut : Syekh Syamsuddin al-Wasil berasal dari Negeri Persia atau biasa diucapkan Ngerum atau Rum. Beliau konon diutus oleh Raja Persia (Rum) untuk menjinakkan tanah Jawa yang banyak dihuni balatentara jin-setan dan raksasa atau dhenawa, yang pada periode-periode sebelumnya telah mengalahkan serta membunuh sekitar 20.000 kepala keluarga rombongan utusan Raja Rum, padahal di dalam rombongan itu terdapat pula pasukan bersenjata. Istilah dhenawa atau raksasa pada masa itu dipakai untuk menyebut pengikut aliran Bhairawa, yaitu salah satu aliran dalam agama sinkretisme Syiwa-Budha. Salah satu utusan Raja Rum yang lain adalah yang dikenal sebagai Syekh Subakir, yang makamnya berada di berbagai tempat di Pulau Jawa, dan dikenal sebagai Makam Dowo (makam yang panjang).
Beliau datang ke Kediri, menghadap ke hadapan Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya (Raja Kerajaan Kadiri), dan meminta izin untuk berdakwah dan mengajarkan kepada masyarakat Kitab Musyarar, sebuah kitab yang membahas mengenai ilmu falak dan ilmu ramalan. Kefasihan Syekh Syamsuddin al-Wasil dalam menjabarkan isi Kitab Musyarar membuat Sri Maharaja Mapanji Jayabaya, Raja Kediri (1135-1159), terpikat untuk mempelajarinya. Kitab Musyarar mengulas tentang astronomi atau perbintangan (ilmu falak) serta ilmu nujum atau ramalan. Pengetahuan yang ada di Kitab Musyarar ditulis ke dalam bentuk kidung. Itu sebabnya tidak semua orang bisa mengerti dengan mudah. Kemampuan Syekh Syamsuddin al-Wasil memahami teks puisi Jawa kuno tersebut, membuat Prabu Jayabaya ingin mengenal lebih dekat.“..dan atas permintaannya untuk lebih dalam membahas kitab Musyarar yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal).
Diperkirakan pada abad ke-12. Tiba di Kediri, Syekh Syamsuddin al-Wasil menjalankan misinya mengenalkan agama Islam. Ia memulai langkah dari wilayah pinggir. Dengan mengedepankan pendekatan merangkul, Beliau menyusuri kawasan pedalaman.Di setiap wanua (desa) yang dilalui,beliau berinteraksi dengan penduduk setempat. Dengan lisan yang lembut, Syekh Syamsuddin al-Wasil ya
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

