Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Dalil dan Hukum Berdiri ketika Mahallul Qiyam dalam Pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW
✓ Terverifikasi Tim Riset

Dalil dan Hukum Berdiri ketika Mahallul Qiyam dalam Pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW

9.953 kali dibaca · Amaliyah dari Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dilaksanakan oleh mayoritas umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia. Peringatan maulid selalu semarak dengan berbagai agenda dan tradisi yang menunjukkan ungkapan syukur dan cinta umat Islam atas lahirnya Baginda Nabi Muhammad SAW.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Laduni.ID, Jakarta - Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dilaksanakan oleh mayoritas umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia. Peringatan maulid selalu semarak dengan berbagai agenda dan tradisi yang menunjukkan ungkapan syukur dan cinta umat Islam atas lahirnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Secara umum peringatan tersebut diisi dengan pembacaan kitab maulid, yakni kitab yang memuat kisah kelahiran dan perjalanan hidup Baginda Nabi Muhammad SAW, seperti kitab Al-Barzanji, Ad-Diba'i, Simtud Durar, Syaraful Anam, dll.

Perayaan peringatan kelahiran Baginda Nabi Muhammad pada hakikatnya bertepatan pada tanggal 12 bulan Rabiul Awal, tetapi sepanjang bulan maulid atau Rabiul Awal umat Islam telah menyambutnya dengan berbagai macam acara. Bahkan, ketika bulan maulid telah lewat, antusiasme umat Islam untuk terus mengadakan peringatan kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW tidak ada habisnya. Semua itu berlandaskan karena kecintaan umat Islam kepada panutan agung, Nabi Besar Muhammad SAW. 

Di Indonesia, umumnya tradisi memperingati kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan beragam kegiatan, mulai dari berbagai macam lomba, kegiatan bakti sosial, pengajian, dan tentunya diisi dengan pembacaan kitab Maulid Nabi Muhammad SAW. Biasanya dalam pembacaan maulid, mula-mula dibacakan rawi-rawi dari berbagai kitab Maulid Nabi, dan selanjutnya dibacakan pula Qosidah serta pujian-pujian untuk Nabi Muhammad SAW. Lalu di pertengahan proses pembacaan kitab Maulid tersebut, ada bagian khusus yang berisi shalawat, yakni bagian Mahallul Qiyam. Ketika sampai di bagian ini para hadirin secara serentak berdiri dan bersama-sama membaca shalawat yang sama. Lalu, apa landasan yang mendasarinya? Berikut penjelasan lebih lanjutnya.

Dalil dan Hukum Berdiri ketika Mahallul Qiyam dalam Pembacaan Maulid

Jika ditelaah dalam Al-Qur’an maupun Hadis, memang tidak ditemukan secara eksplisit dalil tentang anjuran berdiri saat pembacaan Maulid Nabi. Namun, tidak adanya dalil ini, bukan berarti otomatis menjadi larangan. Sebab pembacaan Maulid Nabi bukanlah Ibadah Mahdhoh "Murni" layaknya Shalat, Puasa Ramadhan, Haji dan lain sebagainya, melainkan sebuah tradisi yang bernilai ibadah. Akan tetapi, para ulama berpendapat, bahwa berdiri ketika Mahallul Qiyam dalam pembacaan maulid Nabi seperti yang dilakukan oleh umat Islam pada umumnya, bisa dimasukkan dalam kategori "Istihsan" atau dianggap baik.

Penjelasan tersebut sebagaimana terdapat dalam kitab I’anatut Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi, tepatnya di juz III, halaman 414.  Berikut teks terkait: 

(فائدة) جَرَّتِ الْعَادَةُ أَنَّ النَّاسَ إِذَا سَمِعُوْا ذِكْرَ وَضْعِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْمُوْنَ تَعْظِيْمًا لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا الْقِيَامُ مُسْتَحْسِنٌ لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ فَعَلَ ذَلِكَ كَثِيْرٌ مِنَ عُلَمَاءِ الْاُمَّةِ الَّذِيْنَ يَقْتَدِى بِهِمْ. 

"Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut-sebut, orang-orang akan berdiri sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Berdiri seperti itu didasarkan pada 'istihsan' (anggapan baik) sebagai bentuk penghormatan kepada Baginda Nabi SAW. Hal ini telah dilakukan oleh banyak ulama terkemuka panutan umat Islam."

Momen berdiri ketika masuk bagian Mahallul Qiyam dalam pembacaan Kitab Maulid, biasanya di dalam tradisi orang Jawa disebut dengan “Srokalan”. Istilah ini&n

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+