Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Muhammad Idris, Pelopor Nahdlatul Ulama di Wonogiri
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Muhammad Idris, Pelopor Nahdlatul Ulama di Wonogiri

lahir 1921 M · 15.871 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Pada tahun 1957, setelah mendirikan masjid, KH. Muhammad Idris mendirikan Pondok Pesantren dan Madrasah Tsanawiyah di Cangkring, yang kemudian berganti nama menjadi Madrasah Tsanawiyah Al Ma’arif 1 Tirtomoyo pada tahun 1985.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi:

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendiidkan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Masjid
3.2  Mendirikan Pesantren
3.3  Kiprah di Nahdlatul Ulama
3.4  Terjun ke Politik

4.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Muhammad Idris lahir di Kampung Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, pada 23 Maret 1921. Beliau adalah putra dari pasangan Nyai Miyatun binti Abdul Jalil dengan KH. Muhammad Hasan bin KH. Muhammad Ilyas.

Pada tahun 1927 ketika masih kecil sekitar umur 6 bulan, ibunya meninggal dunia. KH. Muhammad Idris kemudian diambil (diasuh) oleh kakeknya yang bernama KH. Muhammad Ilyas di Desa Suruhan yang sekarang berganti menjadi Desa Cangkring Kidul, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri.

Selama diasuh oleh kakeknya, KH. Muhammad Idris ditugasi untuk mengasuh putra dari Mbah Hasan Ngabeni yang bernama Mabsiatun saat itu umurnya sudah menginjak dewasa.

Tetapi dia dalam keadaan sakit yang membuat dia di pasung. Dalam tugasnya mengawasi Mabsiatun, KH. Muhammad Idris gagal sehingga Mabsiatun bisa melarikan diri, beliau dimarahi oleh kakeknya, tidak lama kemudian, KH. Muhammad Idris juga melarikan diri dan pergi ke Ponorogo dengan jalan kaki

1.2 Riwayat Keluarga
Pada tahun 1946 kurang lebih berumur 33 Tahun KH. Muhammad Idris menikah dengan Nyai Partiyem putri dari Bapak Karto Sentono seorang punggowo atau pun (lurah desa). Setelah menikah beliau ikut hidup di rumah mertuanya. Dari pernikahannya beliau dikaruniai 9 putra dan putri, di antaranya:

  1. Drs. Dimyathi
  2. Mawardi
  3. Nukman Suhari
  4. Zaenuri
  5. Siti Mahmudah
  6. Maskur
  7. H. Mukhsin
  8. Asrori
  9. K. Rooyani

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Pendidikan KH. Muhammad Idris di mulai pada tahun 1938, beliau belajar di Pondok Pesantren Dresmo Surabaya. Untuk membiayai mondok beliau membagi waktunya untuk bekerja.

Selain di Dresmo beliau meneruskan belajar di Pondok Pesantren Denayar Jombang yang saat itu Gus Dur (Abdurrahman Wahid) masih kanak-kanak. setelah dari Denanyar KH. Muhammad Idris pergi menuju ke Pondok Pesantren Mangkang Semarang, di perjalanan antara Jombang ke Mangkang, beliau jalan kaki menyusurui rel kereta api.

Setelah beliau tiba di Mangkang beliau mengabdi kepada Pak Kyai, dan beliau mendapat tugas mengabdi yaitu menjaga tambak ikan bandeng yang saat itu sering dicuri yang kisahnya setiap maling itu mau mencuri harus berhadapan dengan KH. Muhammad Idris, kata KH. Muhammad Idris “maling

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+