KH. Ridwan Mujahid Semarang adalah ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Ridwan Mujahid Semarang
Kelahiran
KH. Ridwan Mujahid dilahirkan di Kauman Semarang. Beliau adalah keturunan dari kiai Lasem yang sama dengan kerabat Mbah Ma'shum dan KH. Baidlawi yang bersambung nasabnya hingga Mbah Sambu.
Silsilah KH. Ridwan Mujahid yang didapatkan Amirul Ulum dari KH. Maimun Zubair dalam buku "Muassis Nahdlatul Ulama" adalah: KH. Ridwan bin KH. Mujahid bin KH. Baidlawi bin Kiai Abdul Lathif bin Kiai Abdul Bar bin Kiai Abdul Alim bin Sayyid Abdurrahman (Mbah Sambu Lasem).
Wafat
KH. Ridwan Mujahid wafat dan di makamkan di Pemakaman Umum Bergota (tepatnya di selatan Makam KH. Sholeh Darat, satu area makam keluarga H. Abu Bakar Kauman).
Pendidikan
KH. Ridwan Mujahid adalah salah satu murid KH. Sholeh Darat. Perkenalan KH. Ridwan Mujahid dengan KH. Hasyim Asy’ari lebih karena keduanya merupakan murid KH. Sholeh Darat saat mondok di Pesantren Darat Semarang. Maka perjuangan mendirikan NU merupakan hasil dari kerjasama para murid sesepuh ulama Nusantara semisal: KH. Cholil Bangkalan, KH. Sholeh Darat Semarang, KH Nawawi Banten, KH Mahfudz Termas dan ulama lainnya.
Murid KH. Sholeh Darat lainnya yang berjuang menegakkan Ahlussunnal wal Jama’ah di Semarang antara lain KH. Ridwan bin Mujahid, Kiai Sya’ban bin Hasan, Kiai Thahir Mangkang, Kiai Sahli Kauman, Kiai Ali Barkan, Kiai Abdullah Sajad dan lain-lain.
Salah Satu Pendiri NU
Dalam buku “Kemelut di NU Antara Kiai dan Politisi” karya Abdul Basith Adnan disebutkan peran besar KH. Ridwan Mujahid. Jasanya dalam membentuk organisasi ulama pesantren bersama KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Chasbullah tidak dapat dilupakan. Ulama yang semula berkumpul untuk membahas persoalan negeri Hijaz bernama Komite Hijaz, berubah nama dengan Nahdlatul Ulama.
Usaha mengenalkan NU di Semarang bagi KH. Ridwan Mujahid awalnya tidak mudah. Namun berkat ajaran Islam ahlussunnah wal jama’ah yang ditinggalkan oleh KH. Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (KH. Sholeh Darat), maka NU mudah dikenal dan diikuti oleh warga Semarang. Sehingga ketika NU diresmikan pada tahun 1926, masyarakat Semarang dan sekitarnya mudah menerima dan mengakar dalam sanubari (Amirul Ulum: 2014).
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

