23 Feb 2021 · 7.781 dibaca · Hikmah
LADUNI.ID, Papua Barat - 24 Agustus 2004 silam, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, hujan air mata. Berduyun-duyun tangis serta sesenggukan terus kian menumpah sejak selepas waktu Isya' di hari Senin malam Selasa itu.
Syaikhina KH. Cholil Bisri, nama inilah yang telah membuat air mata para santri yang diikuti oleh masyarakat Rembang terkuras. Kepergiannya ke haribaan Yang Maha Pencipta waktu itu, sungguh membuat para santri terpukul. Juga menggodamkan kesedihan yang sangat mendalam bagi masyarakat Rembang.
Abah, begitu para santri memanggil kiai Cholil, merupakan sosok kiai yang sangat mencintai santrinya. Beliau tidak pernah ridha bila ada santri yang diperlakukan dengan kekerasan. Tidak boleh ada santri yang karena suatu kesalahan, kemudian dihukum dengan cara dipukul atau sejenisnya. Dengan demikian, beliau menekankan kepada para pengurus pondok untuk senantiasa memupuk kesabaran.
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+