Biografi KH. Cholil Bisri

 
Biografi KH. Cholil Bisri

Daftar Isi Profil KH. Cholil Bisri

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Laskar Hisbullah
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  7. Mendirikan Partai PKB
  8. Kisah-Kisah Unik KH. Cholil Bisri

Kelahiran

KH. Cholil Bisri adalah anak sulung yang lahir dari pasangan KH. Bisri Mustofa dan Ma’rufah binti KH Cholil Kasingan. Ia lahir pada 12 Agustus 1942 .

Ayahnya bernama KH. Bisri Mustofa, penulis produktif dan pengarang tafsir terkenal, al-Ibriz, dalam bahasa Jawa. Adiknya bernama KH. Mustofa Bisri, seorang penyair, budayawan, kiai, dan penulis produktif.

Ayahnya KH. Bisri Mustofa adalah seorang Kiai yang disegani di Jawa pada masa 1960-1978. Ayahnya, sebagai menantu Kiai Kholil bin Harun Kasingan yang terkenal di tanah Jawa sebagai ahli Nahwu (tata bahasa Arab) dan ilmu Manthiq (seni logika), memiliki kewajiban melanjutkan perjuangan mertuanya.

Wafat

KH. Cholil Bisri meninggal dunia dalam usia 62 tahun pada 23 Agustus 2004 pukul 20.40 di rumahnya di Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, itu meninggalkan, seorang istri Hj Muhsinah, delapan anak, dan sejumlah cucu. Beliau dikebumikan di Pemakaman Keluarga Bisri Mustofa di Kota Rembang.

Keluarga

KH. Cholil Bisri melepas masa lajangnya dengan menikahi putri Kiai Shoimuri yang bernama Nyai Hj Muchsinah pada tanggal 19 Oktober 1964 dan dikaruniai  delapan orang anak, yaitu:

  1. Yahya  Cholil  Tsaquf  (1966)
  2. Ummi  Kultsum  Cholil  Zalith  (1968)
  3. Zainab  Cholil  Qutsumah  (1970)
  4. Yaqut  Cholil  Qoumas  (1975)
  5. Faizah  Cholil  Tsuqoibak  (1976)
  6. Bisri Cholil  Laquf  (1978)
  7. Hanis  Cholil  Barro’  (1982)
  8. M.  Zaim  Cholil Mumtaz (1991)

Pendidikan

KH. Cholil Bisri kecil memulai pendidikanya dengan Sekolah, di SR (Sekolah Rakyat) 6 Kartioso. Di sekolah tersebut, beliau hanya menmepuh waktu lima tahun, karena pada waktu itu, beliau langsung diterima di kelas dua dan tidak mau satu kelas dengan adiknya, Mustofa, yang pada saat bersamaan masuk kelas satu.

Selain menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (1954), Cholil juga sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (1954), kemudian melanjutkan di SMP Taman Siswa (1956) bersamaan dengan sekolah di Perguruan Islam (1956). Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, (1957), Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta (1960), Aliyah Darul Ulum Mekah (1962), dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ketika Cholil diminta oleh KH. Machrus Ali dari Lirboyo dan KH. Ali Maksum Krapyak untuk nyantri di pesantrennya, beliau diminta memilih sendiri. kemudian memilih nyantri di kedua tempat itu.

Di tangan KH. Ali Maksum, beliau terasah tradisi menulisnya, karena setiap membuat kesalahan beliau diberi ganjaran. Salah satu ganjarannya, beliau disuruh menulis kitab tertentu dua kuras beserta artinya. Tradisi ini ikut membentuk tradisi menulis Kiai Cholil ketika dewasa.

Baca juga: Ijazah KH Cholil Bisri tentang Fadhilah Anak Yatim

Menjadi Laskar Hisbullah

Masa kecil Kiai Cholil Bisri dihabiskan di pengungsian. Bergaul dengan Laskar Hisbullah karena saat itu Ayahnya turut serta mengangkat senjata bersama santri-santri dengan mengajak anak istrinya.

Ketika itu terjadi peristiwa PKI di Madiun 1948. Ayahnya termasuk orang yang diburu oleh PKI saat itu. Sehingga mereka harus mengungsi ke arah timur, tepatnya ke Pare, sekitar Kediri. Pada masa pegungsian itu, ayahnya punya usaha kecil, membuat kertas daur ulang.

Dari kertas bekas koran diolah menjadi bubur, dibentuk dan dijemur menjadi kertas. Kemudian dipotong untuk dibuat kertas buku-buku catatan kecil (notes). Lalu dijual. Kiai Cholil Bisri sendiri sering ikut menjualnya. Di sini jiwa wirausahanya mulai terbangun.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Dalam organisasi, Kiai Cholil berkiprah di lingkungan NU. Dimulai ketika beliau aktif sebagai Ketua GP Ansor Rembang, hingga menjadi ketua Partai NU Rembang (ketika NU menjadi partai sendiri pada 1971), Ketua DPC PPP (ketika NU fusi dengan PPP). Beliau juga pernah menjadi A’wan dan Mustasyar PWNU Jawa Tengah, dan Ketua MPW PPP Jawa Tengah.

Pada awalnya Kiai Cholil tidak berkecimpung di partai politik. Sampai suatu ketika Kiai Ali Maksum menegurnya di Munas Alim Ulama Kaliurang Yogyakarta, “Kamu kok tidak ikut main politik seperti adikmu, Mustofa, kenapa?”

Pada akhirnya Kiai Cholil tertarik juga di politik, dan beliau memiliki parodi yang sangat mendalam tentang NU dalam politik. Parodinya yang sering dikutip berbunyi, “NU itu sering diidoni (diludahi).”

Karena keterlibatannya dalam PPP, pada 1982 beliau diminta untuk menjadi anggota DPRD Tingkat I, tetapi beliau menolak, karena beliau berprinsip harus mengurus pesantren.

Waktu itu, Kiai Cholil hanya mau di DPRD Tingkat II, seumur hidup. Terlebih lagi setelah ayahnya meninggal pada 1977,  beliau memegang tanggung jawab untuk menjadi pengasuh di Pesantren Raudhatut Thalibin.

Di pesantren, Kiai Cholil mengajar bandongan Alfiyah, Syarah Fath al-Muin, Jam’ul Jawami’, dan Ihya’ Ulumuddin.

Pada masa NU berfusi ke dalam PPP, di Muktamar 1994, faksi NU membentuk Kelompok Rembang, merujuk nama tempat kiai Cholil Bisri menjadi motor pentingnya. Kelompok ini semula bermaksud mengajukan tokoh NU untuk bersaing dengan Buya Ismail Metareum dari unsur Muslimin Indonesia (MI).

Bersama Matori Abdul Djalil, Imam Churmen, dan lain-lain, mereka mengoordinasi faksi NU di PPP. Tetapi, ketika pertarungan itu belum terlaksana Kelompok Rembang justru buyar karena sebelum Muktamar PPP sudah terjadi perpecahan dengan keluarnya kelompok Hamzah Haz dari Kelompok Rembang. Meski demikian, nama Kiai Cholil Bisri sangat dihormati sebagai sosok kiai politisi yang gigih membela NU.

Ketika NU kembali ke Khittah pada 1984, Kiai Cholil ikut terlibat dalam pemulihan Khittah NU. Dalam Muktamar NU ke-27 (1984), yang merumuskan Khittah NU, Kiai Cholil Bisri menjadi Ketua Panitia Perumus di Komisi Program dengan Sekretaris H. Tan Gatot dan anggota-anggota: H. Dahlan Ch, H.M. Husaini Tiway, H.M. Utsman Limbong, H.M. Asy’ari Sanak, H. Asnawi Lathif, H. Muhammadiyah, dan H. Syafrudin Syah.

Mendirikan Partai PKB

Sebelum PKB didirikan, Kiai Cholil Bisri tampak tertarik untuk berkiprah di PPP lagi, yaitu pada 1992 saat ia masuk DPR RI dari PPP. Tetapi, ketika PKB didirikan, kiprahnya juga besar di partai ini. Sebelum PKB didirikan oleh Tim Kerja PBNU, inisiatif awal untuk membentuk sebuah partai terjadi pada 30 Mei 1998 ketika diadakan istighatsah kubro di Jawa Timur, dan banyak kiai yang berkumpul di Kantor PWNU Jawa Timur.

Setelah acara itu, banyak kiai mendesak Kiai Cholil Bisri supaya menggagas dan membidani pendirian partai bagi wadah aspirasi politik NU. Pada 6 Juni 1998, beliaumengundang 20 kiai untuk membicarakan hal tersebut, dan tidak kurang 200 orang kiai datang. Dari pertemuan di rumahnya inilah gagasan tersebut mengkristal sampai proses pendirian PKB oleh Tim Kerja PBNU.

Ketika PKB dideklarasikan pada 23 Juni 1998, Kiai Cholil Bisri menjadi salah satu tokoh penting. Ia menjadi Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB, dengan Ketua Dewan Syuro KH. Ma’ruf Amien dan Ketua Dewan Tanfdiziyah Matori Abdul Djalil. Keterlibatannya dalam PKB mengantarkannya menjadi anggota DPR dari PKB, bahkan sampai menjadi Wakil Ketua MPR.

Kisah-Kisah Unik KH. Cholil Bisri

Santri Nakal di Lirboyo

Sewaktu mondok di Lirboyo, partner mbeling terdekat Kiai Cholil adalah Gus Miek (Kiai Hamim Jazuli). Pernah, ditengah pelajaran Madrasah, Kiai Cholil yang tempat duduknya didekat jendela, disapa Gus Mik dari luar.

"Keluar, Gus!" kata Gus Miek, setengah berbisik.

"Ada apa?"

"Nonton bioskop... ada film bagus!"

Santri Kholil ragu,

"Masih pelajaran ini..."

"Lompat saja!

Ketika guru menghadap papan tulis, Kiai Cholil melompat keluar dari jendela. Santri-santri lain tak berani menegur tingkah gus-gus itu

Jauh di belakang hari, ketika Gus Miek sudah melejit reputasinya sebagai seorang wali keramat yang khoriqul 'aadah, ditengah-tengah Konbes NU di Pondok Pesantren Ihya 'Ulumuddin, Kesugihan, Cilacap, seorang kyai Kediri yang dulunya juga anggota geng santri mbeling di Lirboyo mendatangi Kiai Cholil di penginapan.

"Dapat salam dari Gus Mik, Gus".

"Lhah, dia nggak ikut Konbes?"

"Datang sih..."

"Mana orangnya? Kok nggak nemuin aku?"

"Nggak mau. Sampeyan tukang nggasak (tukang meledek) sih... kalau sampeyan ledek, bisa-bisa badar (gagal) kewaliannya..."

Wali Anyar (Wali Baru)

Suatu kali, Mbah Lim (Kiai Muslim Rifa'i Imam Puro, Klaten) yang terkenal wali, datang mengunjungi Gus Mus. Seorang pendhereknya (santri yang mengikutinya) diutus untuk memberi tahu Kyai Kholil.

"Mbah Lim ada di rumah Gus Mus, 'Yai", kata si pendherek, "panjenengan dimohon menemui..."

"Nggak mau! Sama-sama walinya kok!"

Setelah dilapori, Mbah Lim segera beranjak menemui Kyai Kholil. "Sesama wali" berangkulan sambil tertawa-tawa.

"Wali anyar... wali anyar...", kata Mbah Lim, "bodong 'ki... bodong 'ki...

Voting

Konbes NU di Bandar Lampung kebingungan memilih Rais 'Aam baru. Kiai Achmad Shiddiq telah wafat, Kiai Ali Yafie mengundurkan diri. Kiai Yusuf Hasyim, calon terkuat, didelegitimasi keponakannya sendiri.

"Pak Ud itu bukan ulama, tapi zu'ama", kata Gus Dur, "beliau termasuk santri korban revolusi... ngajinya kocar-kacir!"

Konbes pun kehilangan arah.

Dikerumuni wartawan, Kiai Cholil melontarkan statement,

"Istikhoroh saja!"

"Bagaimana caranya?" wartawan bertanya.

"Pilih 40 orang kiai ahli riyadloh (tirakat). Beri kesempatan mereka beristikhoroh. Sesudah itu, saling mecocokkan isyaroh yang didapat masing-masing..."

Wartawan tak puas,

"Kalau diantara 40 kyai itu hasil istikhorohnya berbeda-beda bagaimana?"

Jawaban Kiai Cholil mantap:

"Ya divoting!"

“Kalau Suap, Ya Jelas Neraka”

Merebaknya rumor ruswah (suap) pada pemilihan gubernur (Pligub) Jawa Timur, agaknya menarik perhatian Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah, KH. Cholil Bisri yang juga wakil Ketua MPR ini tampak begitu antusias menanggapi Tabloid Susara Santri saat mempertanyakan rumor ruswah di sekitar Pilgub Jatim ini pada acara “Silaturrahim PCNU se-Jawa Timur” di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, awal Juli lalu. Berikut petikan lengkap komentarnya:

Jika ada Cagub atau Cawagub memberikan uang kepada anggota dewan, apakah itu bisa dinamakan ruswah?

Ya, terserah, orang mau dikatakan ruswah juga boleh, bukan ruswah ya, ya itu, (disambut tawa orang-orang di sekeliling Mbah Kholil).

Pada dasarnya semua tergantung dari niatnya. Kalau orang tersebut niatnya memberi uang untuk nyuap, ya jelas itu neraka. Kalau niatnya bukan untuk nyuap, ya bukan ruswah namanya.

Menurut Anda, apa pengertian ruswah itu ?

Ya jangan tanya ke saya. Tanya saja pada kiai-kiai lain, ini disebelah saya banyak kiai-kiai (sambil menunjuk beberapa kiai yang duduk disampingnya). Masak saya pakai baju begini seperti kiai. (sambil tertawa).

Untuk menjadi Cagub atau Cawagub seseorang harus mendapatkan rekomendasi dari partai, misalkan ada Cagub - cawagub memberikan sejumlah uang ke partai, apakah ini bisa disebut ruswah?

Rekomendasi dari partai itu, maksudnya adalah bahwa partai menyetujui dan menganggap orang atau calon yang diajukan itu layak menjadi Cagub atau Cawagub. Kalau kemudian orang tersebut memberi uang ke partai untuk tujuan tertentu, misalnya untuk mendapatkan pekerjaan, ya jelas itu ruswah!. Arrasi wal murtasi, semua suap itu neraka, baik itu yang memberi atau yang menerima.

Lalu bagaimana jika ada Cagub atau Cawagub yang sowan ke Kiai untuk meminta restu dan memberikan sejumlah uang, apakah ini bisa disebut ruswah?

Ya bukan, orang datang kepada Kiai untuk minta restu dan memberikan sesuatu atau uang misalnya, itu tidak bisa dikatakan ruswah, tapi hadiah.

Orang memberi itu ‘kan macam-macam. Kalau niatnya shodaqoh, ya itu shodaqoh. Kalau niatnya memberi itu hadiah, ya, jelas itu hadiah, dan kalau niatnya memberi itu untuk mendapatkan sesuatu, jelas ini ruswah, dan ini neraka. Jadi semua tergantung dari niatnya.

Sementara itu, KH. Masduqi Mahfudh Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur yang ditemui terpisah di acara yang sama mengatakan, bahwa pemberian yang diberikan oleh seorang calon semisal gubernur adalah suap hukumnya haram.

Kemudian ketua MUI Jatim menceritakan tentang datangnya salah seorang calon gubernur jatim kepadanya untuk minta dukungan. “Saya nggak punya biting untuk mendukung, yang berhak anggota DPRD”, katanya kepada sang tamu.

Ketika akan pulang tak ketinggalan tamu tadi memberikan amplop yang berisi uang kepada kiai yang dikenal sangat tegas dalam masalah hukum ini. Untuk kedua kalinya sang tamu harus kecewa, sebab Kiai Masduqi tidak mau menerimanya walaupun sudah dikatakan uang itu adalah hadiah. “Hadiah itu kalau sudah jadi”, katanya dengan suara tegas.