Sebelum ke Parung, Habib Saggaf pernah mendirikan Ponpes Nurul Ulum di Kali Mas Madya, Surabaya, yang banyak menerima murid dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Afrika.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
3.2 Menanamkan gerakan Toleransi
3.3 Sahabat Presiden ke-4
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Habib Saggaf bin Mahdi lahir pada tanggal 15 Agustus 1945 di Dompu Nusa Tenggara Barat (NTB).
1.2 Wafat
Habib Saggaf bin Mahdi wafat pada hari Jum'at, 12 November 2010 M/5 Dzulhijjah 1431 pukul 09.15 WIB.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Berawal dari kalimat, "nanti kamu jadi ulama besar dan kaya raya. Kamu masuk pondok saja. Berangkatlah tawakkaltu," dari Habib Sholeh bin Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar, seorang ulama besar di Bondowoso, Jawa Timur usai "meneliti" kaki Habib Saggaf bin Mahdi yang masih berusia 14 tahun. Namun saat itu, Habib Saggaf muda masih ragu.
Pasalnya sejak kecil beliau tak pernah mondok. "Kepala seperti mau pecah mendengar perintah itu. Tapi saya pergi juga ke Pesantren Darul Hadis di Malang," kenang Habib Saggaf, panggilan akrab Habib Saggaf bin Mahdi bin Syaikh Abu Bakar.
Di depan pintu pondok pesantren, Habib Saggaf diterima pendiri Darul Hadits, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawi. "Kamu musti belajar baca Al-Qur'an," kata Habib Abdul Qadir seraya memegang kuping Habib Saggaf kecil. Sontak, ketika itu merasa sakit kepala dan keraguannya lalu hilang seketika.
"Hati saya terbuka. Ini guru saya. Apa pun yang terjadi, saya harus belajar di sini," tekad Habib Saggaf muda ketika itu. Habib Saggaf pun menempuh pendidikan di sana dengan cemerlang.
"Saya menjadi santri hanya 2 tahun 7 bulan dan langsung ngajar fiqih dan nahwu. Saya di sana 13 tahun," kenangnya tentang masa-masa di pesantren.
Sepulang dari Malang, Habib Saggaf berguru kepada Sayyidi Abbas di Aljazair selama 5 tahun dan melakukan i'tikaf di Makkah selama 5 tahun. Habib Saggaf juga memperdalam thoriqah di Irak. Namun justru beliau harus kembali ke Tanah Air, sebab guru thoriqahnya yang beraliran Syadziliyah, merekomendasikan agar belajar thoriqah di Mranggen, Kabupaten Demak, yakni kepada Syaikh Muslih Abdurrahman.
"Karena Thoriqah Syadziliyah agak sulit di Indonesia, maka saya disuruh ke Mranggen yang beraliran Qadiriyyah. Syekh Muslih Mranggen itu guru thoriqah saya," ungkap Habib Saggaf dalam sebuah wawancara dengan Ahmad Suaedy dari the WAHID Institute.
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
Habib Saggaf akhirnya kembali ke Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk mendirikan Pondok Pesantren Ar-Rahman. Tapi, tak lama berselang, Habib Saggaf pindah ke Parung, Bogor dan di tempat ini beliau mendirikan Pondok Pesantren Al-'Ashriyyah Nurul Iman.
Sebelum ke Parung, Habib Saggaf pernah mendirikan Pondok Pesantren Nurul Ulum di Kali Mas Madya, Surabaya, yang banyak menerima murid dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Afrika. Sejak itu, undangan ceramah banyak datang dari negar
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

