Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz merupakan seorang pendidik dan sekaligus ahli dakwah. Meski berasal dari tempat yang terpencil, Tarim, Hadhramaut, namun gema dakwah beliau sampai ke Mekah, Madinah, Oman, Bahrain, Yordania, beberapa negara di Afrika, India, Malaysia, Indonesia, Amerika, Inggris, Kanada dan lain-lain.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Sosok Pendakwah
3.2 Mengasuh Pesantren
3.3 Kisah Tauladan
4. Karomah
5. Karya
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syaikh Abu Bakar lahir di Tarim, Hadhramaut, Yaman, pada hari Senin, 4 Muharram 1383 H (27 Mei 1963), pada pagi hari sebelum terbit matahari. Beliau tumbuh di lingkungan keluarga yang saleh dan berilmu.
Ayahnya, Habib Muhammad bin Salim, adalah ulama terpandang dan Mufti dalam mazhab Syafi’i. Kakeknya, Habib Hafidz bin Abdullah bin Syaikh Abubakar bin Salim, merupakan ulama produktif. Saudara tertua beliau, Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, adalah ahli fiqih dan pemuka para Mufti di Kota Tarim.
2.1 Riwayat Keluarga
Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz menikah dengan Salma binti Hafidz bin Sheikh Abu Bakar bin Salim, yang juga berasal dari keluarga yang memiliki silsilah keturunan Rasulullah SAW. Mereka dikaruniai beberapa anak yang juga mengikuti jejak beliau dalam menuntut ilmu dan berdakwah.
- Habib Ali Masyhur bin Umar bin Hafidz
- Habib Salim bin Umar bin Hafidz
- Habib Muhammad bin Umar bin Hafidz
- Habib Abdullah bin Umar bin Hafidz
- Habib Ahmad bin Umar bin Hafidz
Anak-anak beliau banyak yang mengikuti jejaknya dalam berdakwah dan menuntut ilmu agama, melanjutkan tradisi keilmuan dan dakwah dari keluarga besar Habib Umar bin Hafidz.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Ketika Habib Umar bin Hafidz masih kecil, pada usia tujuh tahun, setiap malam ayahandanya, Habib Muhammad bin Hafidz, membangunkannya untuk melaksanakan Shalat Tahajjud. Meski terkantuk-kantuk, Habib Umar kecil tetap berusaha mengikuti. Pada suatu malam, seorang tamu menyaksikan kejadian itu dan berkata, "Anakmu terlalu kecil, kasihan. Umurnya belum pantas untuk ibadah seperti ini." Habib Muhammad kemudian menatap tamunya dan berkata, "Anda akan menjadi saksi, tunggulah dan lihat, akan jadi apa anak ini di kemudian hari!"
Sejak dini, cinta terhadap ilmu dan kaum sholihin telah tertanam dalam jiwa Habib Umar. Ia telah menghafal Al-Qur'an dan mempelajari ilmu-ilmu dasar agama. Ketika berusia sembilan tahun, ayahnya, Habib Muhammad bin Salim, diculik oleh orang-orang komunis yang berkuasa di Yaman Selatan karena ketegasannya dalam menyampaikan dakwah dan kebenaran. Hingga kini, keberadaannya tidak diketahui.
Masa kecil Habib Umar di Hadramaut penuh dengan tekanan dan intimidasi terhadap para ulama dan pengajar. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Dengan sembunyi-sembunyi, ia terus belajar kepada para ulama masa itu, termasuk ayahandanya, Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, dan ulama lainnya seperti Al-Habib Muhammad bin Alwi bin Syihab, Al-Habib Ahmad bin Ali bin Syaikh
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

