Syekh Muhammad bin Hasan asy-Syaibani adalah seorang ahli fiqih dan tokoh ketiga dari madzhab Hanafi yang berperan besar dalam mengembagkan dan menulis pandangan Imam Abu Hanifah, beliau merupakan pengarang kitab Al-Jami'-al-Kabir dan al-Jami'-al-Shaghir
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Biografi Syekh Muhammad bin Hasan asy-Syaibani
1. Kelahiran
Syekh Muhammad bin Hasan asy-Syaibani adalah seorang ahli fiqih dan tokoh ketiga dari madzhab Hanafi yang berperan besar dalam mengembagkan dan menulis pandangan Imam Abu Hanifah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin al-Hasan bin Farqad asy-Saybani). Lahir di Wasit, Damaskus (Syuriah) pada tahun 131 H/748 M, beliau tumbuh besar di Kuffah kemudian menimbah ilmu di Baghdad.
Baca juga: Mengenal 4 Imam Madzhab Ilmu Fiqih
2. Wafat
Syekh Muhammad bin Hasan asy-Syaibani wafat pada tahun 189 H/804 dalam usia 58 tahun.
3. Pendidikan
Pendidikannya berawal di rumah, dibawah bimbingan langsung dari ayahnya, seorang ahli fikih di zamannya. Pada usia belia, asy-Syaibani telah menghafal al-Qur'an. Pada usia 19 tahun, ia belajar kepada Imam Abu Hanifah. Kemudian ia belajar kepada Imam Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah. Dari kedua Imam inilah asy-Syaibani memahami fiqih madzhab Hanafi dan tumbuh menjadi pendukung utama madhab tersebut. asy-Syaibani sendiri dikemudian hari banyak menulis pelajaran yang pernah diberikan Imam Abu Hanifah kepadanya. Ia belajar hadits dan ilmu hadits kepada Sufyan as-Tsauri dan Abdurrrahman al-Auza'i. Di samping itu, ketika berusia 30 tahun, ia mengunjungi Madinah dan berguru kepada Imam Malik yang mempunyai latar belakang sebagai ulama ahlul hadits.
Berguru kepada ulama di atas memberikan nuansa baru dalam pemikiran fikihnya. asy-Syaibani menjadi tahu lebih banyak tentang hadits yang selama ini luput dari pengamatan Imam Abu Hanifah. Dari keluasan pendidikannya ini, asy-Syaibani dapat membuat kombinasi antara aliran ahlurra'yi di Irak dan ahlul-hadits di Madinah. Ia tidak sepenuhnya sependapat dengan Imam Abu Hanifah yang lebih mengutamakan metodologi nalar. Beliau juga mempertimbangkan serta mengutip hadits-hadits yang tidak dipakai Imam Abu Hanifah dalam memperkuat pendapatnya.
Di Baghdad, asy-Syaibani, yang berprofesi sebagai guru, banyak berjasa dalam mengembangkan fikih madzhab Hanafi. Imam asy-Syafi'i sendiri sering ikut dalam majelis pengajian asy-Syaibani. Hal ini ditopang pula oleh policy pemerintah Dinasti Abbasiyah yang menjadikan Madzhab Hanafi sebagai madzhab resmi negara. Tidak mengherankan kalau Imam Abu Yusuf, yang diangkat oleh Khalifah Harun ar-Rasyid untuk menjadi hakim agung (qadli al-qudlat), mengangkat asy-Syaibani sebagai hakim di ar-Riqqah (Irak).
Baca juga: Mengapa Harus Ikut Imam Madzhab yang Empat? Ini Alasannya
4. Karya
Beberapa karya beliau didalam madzhab Hanafi biasa dikelompokkan dalam kumpulan kitab Dzahir ar-Riwayah dan an-Nawadir. Karya beliau yang dikelompokkan dalam jajaran kitab Dzahir ar-Riwayah adalah :
- Kitab al-Mabsut, dalam kitab ini dimuat berbagai pendapat Imam Hanafi dalam masalah fiqih, baik yang disetujui oleh Imam as-Syaibani dan Imam Abu Yusuf, maupun yang mereka bantah.
- Kitab al-Jami'-al-Kabir, menguraikan berbagai masalah fiqih.
- Kitab az-Ziyadat. Di susun Imam asy-Syaibani setela
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

