KH. Muhammad Nur adalah pendiri Pesantren Langitan. Beliau adalah sosok inspiratif yang penuh dengan kesabaran dan ketelatenan memberikan bimbingan mulai tingkat dasar sampai lanjut di bidang agama secara Istiqomah. Beliau tak segan-segan mendatangi rumah per rumah untuk menyebarkan ajaran agama Islam.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga KH. Muhammad Nur
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan KH. Muhammad Nur
2.1 Guru-guru KH. Muhammad Nur
3. Penerus KH. Muhammad Nur
3.1 Anak-anak KH. Muhammad Nur
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah KH. Muhammad Nur
5. Keteladanan KH. Muhammad Nur
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Nur lahir sekitar awal abad 18, beliau berasal dari Tuban dan ibunda beliau bernama Nyai Sofiyah, putri Nyai Sanusi putri Kiai Muhammad Tuyuhan, seorang Alim Ulama yang berasal dari Tuyuhan. Sebuah desa yang terletak kurang lebih 5 kilometer sebelah selatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
1.2 Riwayat Keluarga KH. Muhammad Nur
Beliau dikaruniai 9 anak diantaranya yaitu :
- Abdul Manan
- KH. Ahmad Sholeh
- Ahmad Sholeh
- Imam Rozi
- Imam Puro
- Djojo Musthofa
- Djojo Murtadlo.
1.3 Wafat
KH. Muhammad Nur membangun dan membina Pondok Pesantren Langitan kurang lebih 18 tahun. beliau wafat pada hari Senin, 30 Jumadil Awal 1297 H/ Senin, 10 Mei 1880 M. Dan dimakamkan di kompleks Pesarean Sunan Bejagung Lor, kurang lebih satu kilometer sebelah selatan Kota Tuban.
2. Sanad dan Pendidikan KH. Muhammad Nur
2.1 Guru-guru KH. Muhammad Nur
- Syekh Ahmad Chatib Syambas
- Syekh Abdul Gani Bima
- Syekh Nahrawi
- Syekh Abdul Hamid
3. Penerus KH. Muhammad Nur
3.1 Anak-anak KH. Muhammad Nur
- Abdul Manan
- KH. Ahmad Sholeh
- Ahmad Sholeh
- Imam Rozi
- Imam Puro
- Djojo Musthofa
- Djojo Murtadlo
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah KH. Muhammad Nur
Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Langitan berawal dari seorang guru agama Islam bernama KH. Muhammad Nur. Ulama tersebut berasal dari Tuban dan diperkirakan tiba di daerah sekitar Kecamatan Widang pada pertengahan abad ke-19, seiring dengan masa terjadinya perpindahan penduduk daerah Pantai Utara Jawa, dari desa-desa Demak, Kudus, Pati dan lain sebagainya ke daerah timur sebagai akibat dari adanya disorganisasi sosial, tekanan ekonomi dan penindasan Pemerintah Hindia Belanda, sesudah Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 M. dan karena adanya pelaksanaan Tanam Paksa (Cultuurstelsel) oleh pemerintah Kolonial pada tahun 1830 M.
Ibunda beliau bernama Nyai Sofiyah, putri Nyai Sanusi putri Kiai Muhammad Tuyuhan, seorang Alim Ulama yang berasal dari Tuyuhan. Sebuah desa yang terletak kurang lebih 5 kilometer sebelah selatan Lasem,&nbs
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

