Biografi KH. Abdullah Dimyathi Demak, Waliyullah Penunggang Harimau
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Hijrah ke Bengkah
3.2 Awal Dakwah
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Kyai Dimyathi lahir sekitar tahun 1862 M di Bengkah, Wonosekar, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak terlahir dengan nama Abdullah Dimyathi, merupakan putra ke-4 dari Raden Mas KH. Sanusi Karanggondang, Grobogan keturunan dari Kerajaan Demak.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Dimyathi menikah dengan Nyai Shofiyah yang berasal dari Kalikondang, Karangtengah, Demak. Pada saat menikah, Nyai Shofiyah telah dikaruniai seorang putra, yakni KH. Ali Noreh.
1.3 Wafat
KH. Abdullah Dimyathi wafat pada hari Sabtu Wage 26 September 1943 M atau bertepatan dengan 16 Ramadhan 1631 H.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Kyai Abdullah Dimyathi berasal dari sebuah desa kecil yang bernama Karanggondang yang terletak di sebelah barat Desa Brabo, Kabupaten Grobogan. Masa kecilnya dihabiskan untuk belajar mengaji dengan ayahandanya yakni KH. Sanusi.
Pada masa remaja Kyai Dimyathi mengembangkan wawasan keilmuannya ke Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur dan sekembalinya dari menimba ilmu di pesantren, langsung menularkan ilmunya yang didapatnya sewaktu belajar di Langitan di tanah kelahirannya yakni di Desa Karanggondang. Pada saat usia dewasa dirinya melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah Al-Mukaramah dengan menggunakan alat transportasi kapal laut dan memakan waktu berbulan-bulan serta singgah di beberapa tempat.
2.2 Guru Beliau
Raden Mas KH. Sanusi (ayah).
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Hijrah ke Bengkah
Setelah KH. Dimyathi menikah dengan Nyai Shofiyah, KH. Dimyathi langsung memboyongnya bersama putranya KH. Ali Noreh ke Karanggodang. Pada saat mukim di Karanggondang inilah KH. Dimyathi diajak oleh sahabatnya yang bernama KH. Abdul jalil yang merupakan warga Asli dusun Bengkah untuk hijrah ke desa tersebut agar menyebarkan dan mengajarkan ilmu agama.
Pada masa itu desa bengkah masih berupa hutan belantara dan rumah penduduk masih sangat sedikit, penduduknya pun masih abangan. KH. Dimyathi mengamini ajakan sahabatnya itu untuk pindah ke Desa Bengkah.
3.2 Awal Dakwah
Pada awal hijrah KH. Dimyathi ke Bengkah langsung membangun sebuah Masjid yang dijadikannya sebagai pusat pengajaran tentang ilmu-ilmu keislaman dan saat itu banyak santri yang datang menimba ilmu kepada KH. Dimyathi. Langkah berikutnya setelah melihat santri semakin banyak maka mendirikan pesantren yang semakin lama semakin ramai dan santrinya pun berasal dari berbagai pelosok daerah.
4. Karomah
KH. Dimyathi adalah seorang ulama yang bersikap zuhud, wara, sederhana, dan penuh tawakkal. KH. Dimyathi tidak pernah makan nasi akan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

