Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Habib Abdurahman bin Ali Al-Habsyi (Putra Habib Kwitang)
✓ Terverifikasi Tim Riset

Habib Abdurahman bin Ali Al-Habsyi (Putra Habib Kwitang)

1890 – 1941 M · 11.252 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Habib Abdurrahman lahir di Jakarta diperkirakan pada tahun 1890, Habib Abdurahman bin Ali Al-Habsyi merupakan putra Habaib sangat terkenal dan berpengaruh di tanah Betawi yang diistilahkan bapaknya majelis taklim Jakarta

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Biografi Habib Abdurahman bin Ali Al-Habsyi (Putra Habib Kwitang)

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Nasab Habib Abdurahman bin Ali Al-Habsyi
1.4  Wafat

2.    Sanad Keilmuan Habib Abdurahman bin Ali Al-Habsyi
2.1  Guru-guru Habib Abdurahman bin Ali Al-Habsyi

3.    Perjalanan Dakwah
3.1  Diangkat Menjadi Ketua Tarekat Naqsabandiyah Al-Qodriyah Dunia

4.    Karomah Habib Abdurrahman bin Ali Al-Habsyi
4.1  Menjadi Pembawa Pesan Ketika Akan Berkunjung ke Suatu Tempat
4.2  Berada di Beberapa Tempat dalam Waktu Bersamaan
4.3  Mempersiapkan Makam Sebelum Meninggal

5.    Teladan Habib Abdurrahman bin Ali Al-Habsyi

6.     Referensi

 

 

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga Habib Abdurahman bin Ali Al- Habsyi

1.1 Lahir
Habib Abdurrahman lahir di Jakarta diperkirakan pada tahun 1890, Habib Abdurahman bin Ali Al-Habsyi merupakan putra Habaib sangat terkenal dan berpengaruh di tanah Betawi yang diistilahkan bapaknya majelis taklim Jakarta yang berasal dari Kwitang yaitu Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi. Habib Abdurahman memiliki berbagai julukannya yaitu oleh masyarakat dipanggil Wan Aman dan dikeluarga dipanggil Atung (jantung hati). Julukan Wan Atung dikisahkan karena beliau memiliki kebiasaan tidak mau memakai baju selain yang sudah dipakai abahnya Habib Ali Kwitang.

1.2  Riwayat  Keluarga Habib Abdurrahman bin Ali Al-Habsyi
Di dekat Pecenongan, terletak Gang Abu, yang banyak dihuni keturunan Arab, saat Belanda mulai membolehkan mereka tinggal diluar kampung Arab, Pekojan, Jakarta Kota. Habib Abdurrahman Al-Habsyi sering mendatangi kawan–kawannya di sana dengan berjalan kaki, mengenakan sarung, serta kopiah dan berbaju putih.

Dari seringnya menyambangi kawan–kawannya itulah beliau bertemu dengan jodohnya, yaitu Maria Van Engels, seorang gadis Belanda yang bekerja di sebuah perusahaan jahit milik orang Belanda. Setiap kali beliau ke Gang Abu, melewati tempat Maria bekerja. Awalnya Habib Abdurrahman tak dihiraukan. Tapi lama– kelamaan hati Maria pun terpikat, hingga kemudian mereka berdua sepakat menikah. Maria terlebih dahulu menyatakan setuju menjadi muslimah dan mengganti nama jadi Maryam. Ibunya, yang biasa disebut encang, ikut bersama anak gadisnya.

Menjelang pernikahan mereka di kediaman Habib Ali Kwitang (kini Majelis Ta’lim). Tersiar isu serombongan tentara Belanda siap mendatangi Kampung Kwitang untuk menggagalkannya. Namun, rupanya penduduk Kwitang tak kalah gesitnya. Sejumlah jagoan dan jawaranya, seperti Haji Sairin, Haji Saleh, dan banyak lagi, bersiap menyambut kedatangan mereka. Mereka menunggu di Warung Andil, perempatan Jalan Kramat II (dulu Gang Adjudant) dan Kembang 1, siap menyambut kedatangan soldadoe Belanda yang akhirnya urung datang.

Setelah pernikahan secara Islam, Maryam jadi menantu kesayangan Habib Ali Al-Habsyi dan tinggal di samping rumah mertuanya dan cepat dapat bergaul, berpartisipasi dengan masyarakat sekitar. Orang–orang kampung Kwitang menyebut Wan Non. Non adalah kependek

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+