Syekh Abdul Wahab juga memiliki peranan yang penting dalam mengembangkan Islam di Tanah Banjar, mengingat kedudukan dan figur Syekh Abdul Wahab sebagai seorang ulama yang dikenal alim dan sekian lama menuntut ilmu di Mesir dan daerah Timur Tengah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Biografi Syekh Abdul Wahab Bugis
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Nasab
1.4 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Guru-guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Dakwah
4. Karya-karya Beliau
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Syekh Abdul Wahab Bugis lahir di daerah Sadenreng Pangkajane, Bugis, Makasar, Sulawesi Selatan. Perkiraan beliau lahir antara tahun 1725-1735, Beliau keturunan seorang raja yang berasal dari daerah Sadenreng Pangkajene. Sebagai seorang yang berdarah bangsawan beliau diberi gelar Sadenreng Bunga Wariyah. Jadi nama lengkap beliau adalah Syekh Abdul Wahab Bugis Sadenreng Bunga Wariyah.
1.2 Wafat
Syekh Abdul Wahab Bugis diperkirakan wafat antara tahun 1782-1790 M, dalam usia enampuluh tahunan (60). Pada catatan tahun pertama kali kedatangan beliau (1772 M) dan tahun pemindahan makam beliau.
Di mana semula beliau dimakamkan di pemakaman Bumi Kencana Martapura, namun oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari kemudian, bersamaan dengan pemindahan makam Tuan Bidur, Tuan Bajut (istri dari Syekh Muhammad Arsyad), dan Aisyah (anak dari Tuan Bajut), makam beliau kemudian dipindahkan ke desa Karangtangah (sekarang masuk wilayah desa Tungkaran Kecamatan Martapura) pada pada hari Selasa, 2 Rabiul Awal 1208 H (1793 M).
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
Syekh Abdul Wahab dikenal sebagai salah seorang tokoh “empat serangkai”, yakni Syekh Abdurrahman Al-Misri, Syekh Abdus Samad Al-Falimbani, dan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang memiliki akhlak dan kepribadian sebagaimana akhlak dan kepribadian yang dimiliki oleh tokoh empat serangkai lainnya, sebagaimana digambarkan oleh Abu Daudi beliau adalah empat serangkai yang seiring sejalan, yang mendapat pendidikan dari guru yang sama, yang sama-sama mengutamakan ilmu dan amal, dan empat serangkai yang sama-sama pulang bersama serta mengemban tugas yang serupa.
Beliau adalah sahabat sekaligus menantu dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Jika Syekh Muhammad Arsyad dan Syekh Abdus Samad Al-Falimbani lebih banyak menghabiskan waktu mereka menuntut ilmu di kota Mekkah, maka Syekh Abdul Wahab bersama dengan sahabat beliau Syekh Abdurrahman Misri lebih banyak menghabiskan waktu mereka menuntut ilmu di kota Mesir.
Sehingga dalam tulisan Abu Daudi, Syekh Abdul Wahab tercatat sebagai salah seorang murid dari Syekhul Islam, Imamul Haramain Alimul Allamah Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi. Syekh Sulaiman Al-Kurdi ini kemudian juga menjadi guru dari Syekh Muhammad Arsyad dan Syekh Abdus Samad Al-Falimbani. Itulah sebabnya beliau mengiringi guru beliau ke kota Madinah ketika guru beliau hendak mengajar, mengembangkan pengetahuan agama dan Ilmu Adab serta mengadakan pengajian umum.
Di kota Madinah inilah kemudian empat serangkai bertemu dan selanjutnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Syekh Abdus Samad Al-Falimbani pun mengikuti majelis pengajian Syekh Muhammad Sulaiman Al-Kurdi, yang kemudian memicu lahirnya tulisan Syekh Muhammad Arsyad yang berjudul “Risalah Fatawa Sulaiman Kurdi”.
Risalah ini berupa naskah yang isinya menerangkan j
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

