KH. Muhammad Mudarris SM. dan sampai saat ini beliau masih menjadi figure utama / sentral bagi Pondok Pesantren Sabilul Hasanah. KH. Muhammad Mudarris SM dilahirkan di Ponorogo Jawa Timur, pada tanggal 12 Januari 1952. Meskipun kehidupan orangtuanya pada saat itu sangat sederhana sekali, tapi ayah Beliau KH. Moh. Sholeh Imam Kurmain
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Mudarris, SM lahir pada tanggal 12 Januari 1952 M beliau merupakan putra KH. Moh. Sjoleh Imam Kurmain, orang tua beliau keturunan Kyai besar (KH. Hasan Besari) Telagasari, Ponorogo.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Muhammad Mudarris menikah dengan Nyai Siti Nurjannah, pada tahun 1976 M. Nyai Siti Nurjannah masih keturunan dari Sultan Demak. Yang sebenarnya masih kerabat jauh beliau. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai 3 putra dan 7 putri.
1.3 Wafat
KH. Muhammad Mudarris, SM wafat pada hari Minggu, 23 Agustus 2020 Pukul 08.09 WIB di RS Siloam Palembang karena sakit. Jenazah beliau dimakamkan di Komplek Pemakaman di Pondok Pesantren Sabilul Hasanah.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Pada masa remaja KH. Muhammad Mudarris, SM banyak menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu dari pesantren ke pesantren lain yang menyebar di Pulau Jawa. Dengan berbekalkan niat untuk mendalami ilmu keagamaan tanpa disertai bekal materi yang cukup, beliau belajar di beberapa pesantren yang pada umumnya salafiyyah.
Sambil mengabdikan dirinya kepada Kyai pesantren tersebut. Tidak kurang dari 6 pondok pesantren yang pernah dimukiminya untuk mencari ilmu keagamaan selama kurang lebih 15 Tahun, di antaranya, Pondok Pesantren Gontor, Pondok Pesantren Hudatul Muna Jetis, Pondok Pesantren Durisawo Ponorogo, Pondok Pesantren Rembang (KH. Baidlowi dan KH. Bisri Mustofa), Pondok Pesantren Tebuireng, Pondok Pesantren Manbaul Adhim Nganjuk dan sebagainya. Selanjutnya, setelah beliau menyelesaikan masa menuntut ilmunya di pesantren sampai pada jenjang Sarjana Muda dalam bidang Da’wah di UNSURI/UNU Ponorogo.
2.2 Guru-Guru
KH. Moh. Sjoleh Imam Kurmain (ayah),
KH. Baidlowi Lasem,
KH. Bisri Musthofa,
KH. Imam Muhadi, Baron, Nganjuk.
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
Atas dorongan dari Guru beliau Mbah KH. Imam Muhadi (Alm) Baron Nganjuk, beliau merantau ke Pulau Sumatera, tepatnya di Kota Palembang, untuk mengamalkan ilmu yang telah dimilikinya seraya melakukan usaha ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dari pengalaman di dunia usaha itulah pada akhirnya beliau mendapatkan keahlian dalam bidang kontruksi bangunan (Pernah menjadi Kontraktor dan Konsultan Teknik Swasta) dan meubel air.
Saat itu KH. Muhammad Mudarris SM selaku pendiri pesantren diminta untuk mengobati penyakit salah satu warga setempat. Karena rasa kepedulian untuk melakukan pembinaan rohani dan keagamaan terhadap masyarakat sekitar yang saat itu k
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

