Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Biogafi Syekh Imam Muhadi, Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah, Nganjuk
✓ Terverifikasi Tim Riset

Biogafi Syekh Imam Muhadi, Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah, Nganjuk

1922 – 2002 M · 20.666 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Syekh Imam Muhadi merupakan sosok kyai yang karismatik, beliau lahir di Bagbogo pada hari Sabtu Wage, 13 Feb 1922 M - 28 Mei 2002 M , orang tuanya Bapak Ismain dan ibu Askinah. Beliau merupakan putra kelima dari kesembilan bersaudara.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi
1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pondok Pesantren

4.    Karier
5.    Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga 
1.1 Lahir

Syekh Imam Muhadi merupakan sosok kyai yang kharismatik, beliau lahir di Bagbogo pada hari Sabtu Wage, 12 Februari 1922 M, ayahnya bernama Ismain dan ibunya bernama Askinah. Beliau merupakan putra kelima dari kesembilan bersaudara.

1.2 Riwayat Keluarga
Beliau pada usia 28 tahun bertepatan pada tahun 1950 M menikah dengan seorang wanita dari Dusun Krempyang yang bernama Siti Masfufah salah satu putri dari pasangan Bapak Munandar dan Ibu Maryam. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai seorang putra bernama KH. Ali Barqul Abid.

1.3 Wafat
Beliau wafat pada tanggal 28 Mei 2002 M.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan

Syekh Imam Muhadi Sekolah Dasar (SR) di daerah sekitar rumahnya, setelah lulus beliau meneruskan pendidikannya di Pesantren Miftahul Mutadi'in di Dusun Krempyang. Pada saat itu beliau berumur 13 tahun, menimba ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Mutadi'in di Dusun Krempyang selama 15 tahun lamanya dari tahun 1935 hingga 1950 M, dan selama mondok di sana beliau belajar langsung kepada Syekh Muhammad Ghozali Manan (W. 1411 H/1990 M).

2.2 Guru-Guru
1. KH. Muhammad Ghazali Manan,
2. KH. Romli Tamim,
3. KH. Muslih Abdurrahman.

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Berkembangnya waktu Pondok Pesantren menjadi pusat penyebaran Tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah An-Nadliyah di Jawa Timur bagian Barat yang melingkupi Kabupaten Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Magetan, Ngawi, Pacitan, dan Bojonegoro. Banyak santri yang berasal dari luar Nganjuk, bahkan luar pulau seperti Kalimantan dan Sumatera.

Dari santri-santri ini penyebaranTarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah an Nadliyah begitu pesat, alumni Pesantren Manbaul Adhim mengembangkan ajaran tarekat ke daerah sekitarnya. Sehingga banyak jamaah yang tidak mondok namun menjadi santri dan tersebar di Jawa Timur bagian barat (barat sungai Brantas).

Kemursyidan Syekh Imam Muhadi dari KH. Mustain Romli, naik ke KH. Romli Tamim, naik ke Syaikhona Kholil Bangkalan, naik ke KH. Hasballah, naik ke Syekh Khatib Sambas, sampai silsilah Nabi Muhammad SAW.

Karena di tahun politik tahun 80-an, waktu itu pesantren atau kaum Nahdliyin condong ke partai Islam sedangkan waktu itu KH. Mustain Romli masuk Golkar, maka KH. Mustain Romli memerintahkan KH. Imam Muhadi mendatangi KH. Muslih di Mranggen untuk menyambung jalur silsilah.

Silsilah kemursyidan bertambah, KH. Imam Muhadi naik ke KH. Ahmad Montohar, naik ke KH. Muslih Abdulrahman, n

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+