KH. Noor Hadi, Al Hafidz kelahiran Demak 12-12-1950 kota wali yang menyelesaikan Tahfidzul Qur’an dihadapan Al Fadhil Al ‘Allamah Syaikh KH. R. Arwani Amin, Al Hafidz Kudus Jawa Tengah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pondok Pesantren
5 Karir
6. Referensi
1. Riwayat Hidup Dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Noor Hadi Al-Hafidh lahir pada tanggal 12 Desember 1950 di Demak, Jawa Tengah. Beliau menyelesaikan Tahfidzul Qur’an di hadapan Al-Fadhil Al-‘Allamah Syekh KH. R. Arwani Amin Kudus, Jawa Tengah.
1.2 Riwayat Keluarga
Beliau menikah dengan seorang wanita sholehah dan dikaruniai beberapa anak.
2. Sanad Ilmu Dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Beliau sejak belia sudah belajar agama, ketika memasuki usia remaja beliau mondok di Pesantren Yanbu'ul Qur'an Kudus yang diasuh oleh Syekh KH. R. Arwani Amin Kudus.
2.2 Guru
KH. R. Arwani Amin Kudus
3. Penerus
3.1 Anak-Anak
KH. Agus Ulil Albab
4. Perjalanan Hidup Dan Dakwah
Pada tahun 1979, beliau dengan bermodalkan hafalan Al-Qur’an berangkat memasuki Pulau Dewata. Bapak yang juga warga Nahdlatul Ulama (NU) ini sampai di sebuah mushala di Tabanan, ketika pertama kali menjejakkan kaki di Bali. Sebagai seorang musafir yang baru pertama kali datang ke Bali, hal yang pertama kali dilakukan adalah mencari tempat tinggal. Dengan kemampuan hafal Al-Qur’an yang dimilikinya, beliau berhasil meyakinkan penduduk setempat dan diperbolehkan tinggal di mushala tersebut.
Di daerah yang terletak di Jl. A. Yani inilah nantinya beliau memulai perjuangan mendirikan Pondok Pesantren. Hal yang pertama kali beliau lakukan sesampainya di Bali adalah mencari teman-teman seperjuangan yang ada di Bali. Bersama enam orang lainnya beliau memulai usaha dakwahnya berawal dari daerah sekitar Kabupaten Tabanan. Kabupaten Tabanan sendiri memiliki jumlah penduduk sebanyak 350.000 Kepala Keluarga (KK). Dari jumlah tersebut hanya sekitar 5.000 KK yang beragama Islam.
Dengan kata lain, KH. Noor Hadi berdakwah di daerah yang notabene mayoritas penduduknya beragama non Islam, sebagian besar beragama Hindu. Tabanan sendiri terbagi ke dalam delapan kecamatan, yang mana dari setiap kecamatan sebenarnya sudah terdapat satu buah mushala. Hanya satu kecamatan saja yang belum ada mushalanya. Namun, kondisi mushala tersebut bagaikan hidup segan mati tak mau.
Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi KH. Noor Hadi. Beranjak dari itu lah, KH. Noor Hadi beserta enam temannya mempunyai inisiatif untuk mengadakan kegiatan keagamaan (pengajian, red) di delapan kecamatan tersebut. Dari sini lah beliau menemui hambatan pertamanya. Berawal dari pelaksanaan pengajian di satu kecamatan yang belum ada mushalanya itu, KH. Noor Hadi dan kawan-kawan yang menyewa tempat di sebuah ruko pasar mendapatkan perlawanan dari orang-orang setempat.
Beliau beserta jamaah mendapatkan lemparan batu agar dengan segera membubarkan kegiatan tersebut. Hal ini tidak terlepas dari penduduk se
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

