Tuan Guru Haji Abdurrasyid dilahirkan di Desa Pekapuran Amuntai pada tahun 1884. Sebagai anak tunggal beliau dipelihara oleh kedua orang tuanya dengan baik dan dalam suasana kesederhanaan.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Karier
4.2 Karya-Karya
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Tuan Guru Haji Abdurrasyid lahir di Desa Pekapuran Amuntai pada tahun 1884. Sebagai anak tunggal beliau dididik oleh kedua orang tuanya dengan baik dan dalam suasana kesederhanaan.
1.2 Wafat
Pada bulan Januari 1934 beliau kembali ke Amuntai dalam keadaan sakit. Beliau dirawat oleh dokter Rumah Sakit Amuntai dengan perawatan di rumah. Pada hari Ahad tanggal 4 Februari 1934 bertepatan dengan tanggal 19 Syawal 1353 H jam 16.00 di hadapan istri, anak-anak dan keluarga serta beberapa orang muridnya, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir berpulang ke rahmatullah.
Acara pemakaman beliau, dihadiri tidak kurang dari 200 ulama di antara 2000 orang yang ikut mensholatkan jenazah almarhum. Beliau dimakamkan di samping rumahnya di Desa Pekapuran Amuntai pada sore hari Senin tanggal 5 Februari 1934.
1.3 Riwayat Keluarga
Dalam usia dua puluh tahun beliau menikah dengan Siti Fatimah anak Abdurrahman Sidik dan Masayu, orang yang terpandang di masyarakat. Fatimah mempunyai seorang saudara bernama Abdul Kadir. Perkawinan Tuan Guru Haji Abdurrasyid dengan Fatimah membuahkan enam orang anak, masing-masing bernama Zahrah, Muhibbah, Ramli, Zuhriah, Asnah, dan Ahmad Nabhan.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Sejak kecil beliau sudah sangat rajin belajar. Pada usia 7 tahun sudah khatam Al-Qur'an. Dalam menuntut ilmu agama, beliau belajar pada ulama-ulama besar baik yang ada di sekitar tempat tinggalnya maupun yang ada di daerah lain. Beliau pernah berguru pada Tuan Guru Haji Umar Awang Padang Kelua, Tuan Guru Ahmad Sungai Banar Amuntai, Tuan Guru Jaferi bin Umar Teluk Betung Alabio, dan Tuan Guru Abdul Rahman Pasungkan Nagara serta banyak lagi ulama-ulama lainnya.
Setelah menikah dan dikaruniai 4 orang anak (sebelum Asnah dan Ahmad Nabhan lahir), atas restu keluarganya Tuan Guru Haji Abdurrasyid pergi ke Mesir bersama sahabatnya H. Mansur dari Johor dengan menumpang kapal laut pada tahun 1912. Tuan Guru Haji Abdurrasyid orang yang pertama belajar di Universitas Al-Azhar. Beliau berhasil mengantongi Syahadah Al-Alamiyah Lil Ghuraba.
Di Kairo beliau sempat menyusun kitab Perukunan. Hasil dari penjualan kitab tersebt sebagian beliau pergunakan untuk membiayai keperluan studinya di samping beasiswa yang telah diperolehnya dari Universitas. Untuk Menambah penghasilannya beliau bekerja pada sebuah restoran di kota Kairo, mendistribusikan roti kepada pelanggan dan membantu penerbit dengan men tashih beberapa karangan yang dicetak dengan bahasa Melayu.
2.2 Guru-Guru
1. Tuan Guru Haji Umar Awang Padang Kelua
2. Tuan Guru Ahmad Sungai Banar Amuntai
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

