Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Dr. KH. Idham Chalid
✓ Terverifikasi Tim Riset

Dr. KH. Idham Chalid

1922 – 2010 M · 49.012 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Dr. KH. Idham Chalid atau yang kerap disapa dengan panggilan Pak Idham lahir pada 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Karir di Nahdlatul Ulama (NU)
3.2  Aktif di Politik
3.3  Keistimewaan

4.    Referensi

1. Riwayat Hidup
1.1 Lahir

Dr. KH. Idham Chalid atau yang kerap disapa dengan panggilan Pak Idham lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Beliau merupakan anak sulung dari lima bersaudara, dari pasangan H. Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin.

1.2 Wafat
Pak Idham wafat pada tanggal 11 Juli 2010, jam 08.00 WIB di kediamannya Komplek Pesantren Darul Ma’arif, Cipete, Jakarta Selatan, karena sakit yang diderita.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan

Sejak kecil Kyai Idham dikenal sangat cerdas dan pemberani. Saat masuk Sekolah Rakyat beliau langsung duduk di kelas dua, karena bakat pidatonya yang mulai terlihat dan terasah.

Selepas dari Sekolah Rakyat, Kyai Idham melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Ar-Rasyidiyyah, beliau tumbuh dan gandrung dengan pengetahuan. Kyai Idham mendapatkan banyak kesempatan untuk mendalami bahasa Arab, bahasa Inggris, dan ilmu pengetahuan umum. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Gontor yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur. Kesempatan belajar di Gontor juga dimanfaatkan Kyai Idham untuk memperdalam bahasa Jepang, Jerman, dan Prancis.

Tamat dari Gontor pada tahun 1943, Kyai Idham melanjutkan pendidikan di Jakarta. Di ibu kota, kefasihannya dalam berbahasa Jepang membuat penjajah Dai-Nipon sangat kagum. Pihak Jepang juga sering memintanya menjadi penerjemah dalam beberapa pertemuan dengan para ulama. Dalam pertemuan-pertemuan itulah Kyai Idham mulai akrab dengan tokoh-tokoh utama NU.

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Karir di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Idham Chalid memulai kariernya di NU dengan aktif di GP Ansor. Tahun 1952, beliau diangkat sebagai Ketua PB Ma’arif, organisasi sayap NU yang bergerak di bidang pendidikan. Pada tahun yang sama ia juga diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Partai, dan dua tahun kemudian menjadi Wakil Ketua. Selama masa kampanye pemilu tahun 1955, Kyai Idham memegang peran penting sebagai Ketua Lajnah Pemilihan Umum NU.

Sepanjang tahun 1952-1955, Kyai Idham yang juga duduk dalam Majelis Pertimbangan Politik PBNU, sering mendampingi Rais 'Aam KH. Abdul Wahab Chasbullah berkeliling ke seluruh cabang NU di Nusantara.

Dalam Pemilu 1955, NU berhasil meraih peringkat ketiga setelah PNI dan Masyumi. Karena perolehan suara yang cukup besar dalam Pemilu 1955, pada pembentukan kabinet tahun berikutnya, Kabinet Ali Sastroamidjojo II, NU mendapat jatah lima menteri, termasuk satu kursi wakil perdana menteri, yang oleh PBNU diserahkan kepada KH. Idham Chalid.

Pada Muktamar NU ke-21 di Medan bulan Desember tahun yang sama, Kyai Idham terpilih menjadi Ketua Umum PBNU, saat dipercaya menjadi orang nomor satu NU beliau masih berusia 34 tahun. Jabatan tersebu

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+