KH. Shodiq Damanhuri hidup dalam masa 1904-1988. Beliau merupakan anak pasangan Kiai Munadjat dengan Nyai Siti Aisyah asal Dusun Jajar, Desa/Kecamatan Selopuro. Nama muda beliau adalah Muhammad Djamhuri atau biasa disapa oleh orang tua dan masyarakat sekitar dengan nama Djamhur. Secara garis keturunan adalah Muhammad Djamhuri bin Kiai Munadjat bin Kiai Abdul Ghoni bin Kiai Minhadj.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
3. Penerus Beliau
3.1 Anak Beliau
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Karier Beliau
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Shodiq Damanhuri, beliau merupakan anak pasangan Kiai Munadjat dengan Nyai Siti Aisyah asal Dusun Jajar, Desa/Kecamatan Selopuro kelahiran pada tahun 1904. Nama muda beliau adalah Muhammad Djamhuri atau biasa disapa oleh orang tua dan masyarakat sekitar dengan nama Djamhur. Secara garis keturunan adalah Muhammad Djamhuri bin Kiai Munadjat bin Kiai Abdul Ghoni bin Kiai Minhadj.
1.2 Wafat
Beliau wafat pada tahun 1988
1.3 Riwayat Keluarga
Usai menimba ilmu dari pondok ke pondok, KH. Shodiq Damanhuri muda akhirnya kembali ke Blitar. Bersama sang istri, Nyai Siti Choirijah, beliau memilih tinggal di Desa Bendosewu dan membantu pengajaran di pondok milik sang kakak ipar. Kehidupan rumah tangga beliau tidak bertahan dan akhirnya berpisah dengan Nyai Siti Choirijah.
KH. Shodiq Damanhuri menikah lagi dengan Nyai Salamah. Semasa hidupnya, bersama Nyai Salamah, KH. Shodiq Damanhuri dikaruniai sembilan anak. Yakni Hj Maimunah Mudjahid, KH. Imam Suhrowardi, Siti Sholihah, KH. Muhammad Hizam, KH. Ibnu Mundzir, Hj Siti Mudjahidah, KH. Mahfudz, KH. Mas’ud Jamhuri, dan Hj Umi Fatimah Hafidz.
Semua anak KH. Shodiq Damanhuri juga mengikuti jejak sang ayah mengembangkan ponpes. Baik di Ponpes APIS Gondang maupun mengembangkan ponpes sendiri. Seperti KH. Mahfudz, mengasuh ponpes di Kencong, Pare, Kabupaten Kediri; Hj Maimunah bersama sang suami KH. Mudjahid, mengasuh ponpes di Tumpang, Kabupaten Malang; dan Hj. Umi Fatimah bersama sang suami KH. Hafidz Syafi’i, mengasuh ponpes di Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Ketika umur 13 tahun, Kiai Abdulloh Shoffary yang merupakan kakak ipar beliau memberikan motivasi dan dukungan agar menimba ilmu agama pada Kiai Abu Dardak Papungan. Dalam perjalanannya menimba ilmu agama, KH. Shodiq Damanhuri muda datang ke banyak pondok setelah mendapatkan restu dari orang tuanya dan petunjuk kakaknya. Beliau memetik banyak ilmu dari para ulama pilihan yang ahli dan pindah dari pondok satu ke pondok lain dalam waktu sekitar 21 tahun.
Setidaknya ada 19 guru yang menjadi tempat belajar Djamhuri muda. Yakni Kiai Abu Dardak (Kanigoro), Kiai Hasbulloh (Selopuro), Kiai Zarkasi (Sidoarjo), Kiai Abu (Sidoarjo), KH. M Irsyad (Cilacap), Kiai Mu’thi (Cilacap), KH. Imam Bahri (Nganjuk), KH. Qomarudin (Nganjuk), Kiai Hasjim (Sidoarjo), Kiai Chosin (Sidoarjo), Kiai Dimyathi (Pacitan), KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), Kiai Marwan (Nganjuk), Kiai Manshur (Nganjuk), Kiai Baidowi (Nganjuk), KH. Zainudin (Nganjuk), KH. R Fatah (Tulungagung), KH. Dahlan (Kediri), dan Kiai Nahrowi (Cilacap). “Dalam perburuan ilmu tersebut periode paling lama adalah menjadi santri di Pondok Mangunsari Nganjuk dalam asuhan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

