Biografi KH. Syarqowi, Mursyid Tariqah yang Penyabar dan Pemaaf dari Demak
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi:
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Dakwah Beliau
3.2 Menjadi Mursyid Tariqah
4. Teladan
4.1 Sifat Wirai
4.2 Sosok Penyabar dan Pemaaf
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Kyai Syarqowi lahir di Desa Waruk, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak sekitar tahun 1875 Masehi dengan nama kecil Minhaj. Terlahir dari pasangan carik (Sekretaris Desa) bernama KH. Marhaban dengan Nyai Kasipin berasal dari Desa Tlogogedong, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Kyai Syarqowi merupakan anak sulung dari empat bersaudara yakni:
- Minhaj ( Kyai Syarqowi),
- Kyai Wardi,
- Nyai Mursinah,
- Nyai Warinah.
1.2 Riwayat Keluarga
Kyai Syarqiwo dijodohkan dengan Nyai Maryam putri KH. Abdurrohman, cucu Syaikh Raden KH. Sanusi.
1.3 Wafat
KH. Syarqowi sowan ke hadirat Allah SWT pada Hari Jumat Pahing, 16 Rajab 1363 bertepatan dengan 7 Juli 1944 M. Dengan meninggalkan 4 orang putra dan 2 orang putri, yakni:
- KH Usman,
- KH Abdul Fatah,
- KH Siroj,
- KH Mahfudz,
- Nyai Hj Sa’diyah,
- Nyai Hj Muslihah.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Kyai Syarqowi tumbuh besar dengan pondasi karakter tanggung jawab. Hal ini dapat dilihat melalui kebimbangan Kyai Syarqowi saat akan memulai kelana pendidikan yang akan beliau tempuh. Di satu sisi, beliau bergelora ingin menimba ilmu agama, sedang di sisi lain beliau tidak sampai hati meninggalkan ibu terkasihnya. Namun ibunya tetap menyuruh beliau meninggalkan kampung halaman demi mencari ilmu dan pelajaran kehidupan.
Uang yang sedianya akan digunakan untuk memperbaiki rumah, diurungkan oleh ibunya demi membiayai pendidikannya. Ibunya rela melayani kebutuhan keluaraga dengan pribadi sendiri. Kyai Syarqowi kemudian melanjutkan belajar kepada KH. Sholeh Darat Semarang. Beliau memperdalam ilmu tasawuf dengan mengaji kitab Al-Hikam dan Bidayatul Hidayah hingga satu saat kemudian Kyai Syarqiwo dijodohkan dengan Nyai Maryam putri KH. Abdurrohman, cucu Syaikh Raden KH. Sanusi.
Kyai Syarqowi melanjutkan studinya ke pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur kemudian berpindah pengembaraan keilmuan kepada KH. Idris Jamsaren Solo. Kebetulan KH. Idris ini juga murid KH. Sholeh Darat. Jadi selain status beliau sebagai santri, antara Kyai Syarqowi dan KH Idris adalah seperguruan.
Di sana beliau mengaji kitab Ihya Ulumuddin karya monumental dari hujjatul islam, Muhammad Al Ghozali. Selama belajar, Kyai Syarqowi tak pernah tidur dengan sengaja, beliau hanya tidur bila tertidur. Seakan tidak mengenal lelah, beliau selalu giat dalam belajar. Tak heran jika teman terdekatnya adalah kitab kuning dan alat tulis yang selalu beliau kaji.
Suatu saat ketika saat musyawarah, Kyai Syarqowi diberi kesempatan untuk berbicara, mer
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

