Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Nyai Hj. Solichah Saifuddin Zuhri, Ketua PW Muslimat NU Jawa Tengah (1950-1955 M)
✓ Terverifikasi Tim Riset

Nyai Hj. Solichah Saifuddin Zuhri, Ketua PW Muslimat NU Jawa Tengah (1950-1955 M)

1926 – 1990 M · 3.287 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Biografi Nyai Hj. Solichah Saifuddin Zuhri, Ketua PW Muslimat NU Jawa Tengah (1950-1955 M)

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
2.1  Terjun ke Dunia Politik
2.3  Menjabat Ketua PW Muslimat NU

3.    Karir-Karir
4.    Hobi
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
Nyai Solichah merupakan wanita asal Purworejo yang lahir pada tanggal 15 Oktober 1926 M (menurut data Anggota Konstituante RI), beliau selalu mengajak anak-anaknya dalam kegiatan organisasi yang beliau lakukan.

1.2 Riwayat Keluarga
Nyai Hj. Solichah menjalin rumah tangganya menikah dengan KH. Saifuddin Zuhri, dari pernikahan beliau dikaruniai 10 anak yakni:
1. Kyai Fahmi D Saifudin,
2. Nyai Farida Salahuddin Wahid,
3. Nyai Annisa S Hadi,
4. Nyai Aisyah Wisnu,
5. Nyai Andang Fatati,
6. Kyai Ahmad Baehaqi Saifudin,
7. Nyai Yulia Nur Soraya,
8. Nyai Annie Lutfia,
9. Kyai Adib Daruqutni,
10. KH. Lukman Hakim Saifudin yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI.

1.3 Wafat
Nyai Solichah wafat di Jakarta pada tanggal 6 Maret 1990 M, saat itu beliau masih berstatus sebagai Pengurus PP Muslimat NU.

2. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Keputusan untuk berkiprah dalam organisasi tanpa melalaikan kewajiban sebagai Ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Namun, hal itulah yang dilakukan Nyai Hj. Siti Solichah. Istri dari KH. Saifuddin Zuhri ini berprinsip aktif dalam sebuah organisasi tak harus meninggalkan peran utama dalam keluarga.

2.1 Terjun ke Dunia Politik
Seperti saat kampanye Pemilu 1955 M berkhidmat untuk Agama, Negara, dan Bangsa, saat itu Nyai Solichah diberi tanggung jawab sebagai Juru Kampanye (Jurkam) Nahdlatul Ulama (ketika masih menjadi partai politik) ke luar daerah.

Pada Pemilu tahun 1955, beliau terpilih menjadi Anggota Konstituante Republik Indonesia. Tercatat mulai dari November 1956 M hingga Juli 1959 M, beliau termasuk dari beberapa kader Muslimat NU yang masuk menjadi Anggota Konstituante. Bertepatan kala itu dia punya momongan yang masih kecil, yakni seorang putri berusia 10 tahun bernama Nyai Farida (kelak menjadi istri KH. Salahuddin Wahid) dan adiknya yang masih bayi bernama Kyai Baihaqi.

Meski berada di panggung kampanye, Nyai Solichah tetap membawa kedua anaknya menghadiri undangan rapat kampanye. Alhasil, Nyai Solichah berpidato sementara si kecil Kyai Baihaqi digendong sang kakak tanpa bantuan pengasuh bayi. Hal itu sebagai bukti kemandirian sosok Nyai Solichah Saifuddin Zuhri (penyematan nama Saifuddin Zuhri ini, sekaligus untuk membedakan dengan Tokoh Muslimat NU lainnya yang bernama-sama, Nyai Solichah Wahid Hasyim).

Memang, selama hidupnya Nyai Solichah berpandangan bahwa kaum perempuan harus bisa mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Selain itu, seorang perempuan harus menguatkan kehidupan keluarganya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berkarir atau pun berorganisasi. Karena tanggung jawab sebagai Ibu rumah tangga menjadi tanggung jawab utama. Karena prinsip-prinsip yang beliau pegang itu lah tak ayal bel

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+