KH. Ahmad Subki bin Masyhadi lahir di kota Pekalongan pada tanggal 9 September 1933 M dari rahim ibu Nyai Hj. Mastiah dan bapak KH. Masyhadi.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Karier
4.2 Karya-Karya
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Ahmad Subki bin Masyhadi lahir di Kota Pekalongan pada tanggal 9 September 1933 M dari pasangan Nyai Hj. Mastiah dengan KH. Masyhadi. Silsilahnya dari jalur bapak yaitu, KH. Ahmad Subki bin KH. M. Masyhadi bin KH. Amin bin KH. Abdul Karim (silsilah sampai Maulana Hasanudin Banten bin Maulana Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati Cirebon). Dan dari jalur Ibu Nyai Hj. Mastiah (Hj. Zakiyah–nama setelah haji), adalah anak dari Mbah Kyai Umar Chottob Sampangan Pekalongan yang silsilahnya sampai kepada Kyai Ageng Pekalongan, pendiri Kota Pekalongan.
Tempat tinggal orang tuanya di Kelurahan Sampangan Gg. 6/168 Pekalongan. KH. Ahmad Subki adalah anak keenam dari sepuluh bersaudara. Secara lengkap, mereka adalah Fatmah (wafat masih kecil), Afifah (wafat masih kecil), Shofwanah, KH. Ahmad Fauzi, KH. Muzajjad, KH. Ahmad Subki, Chalimi (wafat masih kecil), KH. Mubarizi, KH. Ali Chammad, dan KH. Imron. KH. Imron ini pernah bersama dengan KH. Ahmad Subki mondok di Lasem di bawah asuhan KH. Ma’shum.
1.2 Wafat
KH. Subki Masyhadi pernah menjadi Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan pada periode 1997-2002 dan juga mengasuh Pondok Pesantren Al-Masyhad Sampangan Kota Pekalongan, pada hari Jumat malam tanggal 18 November 2011 telah berpulang ke Rahmatullah setelah menderita penyakit komplikasi. Ribuan umat Islam di Kota Pekalongan merasa kehilangan atas meninggalnya tokoh yang berusia 79 tahun tersebut. Pasalnya, selama hidupnya KH. Subki Masyhadi senantiasa untuk kegiatan penyebaran agama melalui pendidikan pesantren yang dikelolanya dengan ratusan santri yang datang dari berbagai penjuru daerah tanah air.
1.3 Riwayat Keluarga
Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren KH. Ma’shum di Lasem, KH. Subki Masyhadi menikah sampai empat kali, istri pertama setelah melahirkan anak pertama dan keduanya meninggal dunia. Istri kedua dalam waktu lama belum mendapatkan keturunan, kemudian beristri yang ketiga dan melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Muhammad Hasanudin.
Selang dua tahun, istri kedua melahirkan anak laki-laki diberi nama M. Ainur Rofiq. Disusul dua tahun kemudian lahir anak ke-3 diberi nama M. Lutfi Hakim. Kyai Subki beristri lagi ke-4, membuahkan keturunan 6 anak, 3 laki-laki dan 3 perempuan, yakni: Abdus Shomad, Af’idah Nisa’, Fatimah Ni’matul Maula, dan Muhammad Xahroh, Muhammad Ammar, Nafi’.
Semua anak-anak KH. Subki Masyhadi dipondokkan, sebagaimana yang dilakukan oleh ayahnya dahulu. Di mata anak-anaknya, beliau adalah sosok yang bijaksana, tidak pernah marah, lembut, sabar, tidak pernah mengumpat atau berkata-kata kotor.
Ucapan beliau menyejukkan dan seringkali dibumbui lelucon yang tidak jorok. Ketika shalat fardhu, KH. Subki Masyhadi selalu berj
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

