Memiliki nama lengkap KH. Nur Durya bin Sayyid atau orang biasa memanggilnya Mbah Nur. Kezuhudan dan kesederhanaan beliau tercermin dari tempat tinggal beliau yang sangat sederhana dipinggir sungai.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Karomah
3.1 Melihat Sebelum Terjadi
3.2 Waliyullah yang Sakti
4. Teladan
4.1 Shalat Berjamaah
4.2 Waliyullah yang Zuhud
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
Memiliki nama lengkap KH. Nur Durya bin Sayyid atau orang biasa memanggilnya Mbah Nur. Kezuhudan dan kesederhanaan beliau tercermin dari tempat tinggal beliau yang sangat sederhana di pinggir sungai.
1.1 Lahir
KH. Nur Durya lahir pada hari Jumat Tahun 1873 M, akrab disebut dengan nama Mbah Nur Walangsanga.
1.2 Wafat
KH. Nur Durya wafat pada tanggal 9 Jumadil Awal 1409 Hijriah atau pada 17 Desember 1988 M, pada saat itu terjadi cuaca mendung dan hujan deras selama tiga hari berturut-turut di sekitar wilayah Moga mengiringi kepergian sang waliyullah, bahkan pohon besar di Hutan Cempaka Wulung roboh waktu itu, Wallahu A'lam Bishawab.
Dari semasa hidup beliau hingga setelah wafatnya tempat tinggal yang juga sekarang menjadi makamnya selalu banyak dikunjungi orang-orang yang berziarah ke makam beliau.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
KH. Nur Durya adalah sosok penuh semangat dalam menuntut ilmu, giat beribadah, hidup zuhud dan sederhana. Beliau juga dikenal haus mencari ilmu pada guru-guru yang memiliki ketersambungan sanad keilmuan hingga Rasulullah SAW.
2.1 Pendidikan
KH. Nur Durya kecil memiliki semangat menuntut ilmu, banyak guru dan kyai didatangi sekadar untuk menimba ilmu. Beberapa guru-gurunya adalah Kyai Muslim (Bendakerep-Cirebon), Kyai Kaukab bin Kyai Muslim (Bendakerep-Cirebon), Kyai Wahmuka, Kyai Jami’ Banyumundang, dan Kyai Dahlan (Purbalingga).
Semangat belajar terus dilakukan, berguru atau “nyantri”, terus dilakukan KH. Nur meski telah berkeluarga. Berguru kepada Syekh Armia (Cikura-Tegal) dan Kyai Said bin Syekh Armia Giren (Talang-Tegal). Dari ilmu yang didapatkan, bagi Mbah Nur tidak berhenti sebagai ilmu, namun mewujud pada tindakan untuk mengamalkannya.
Seperti dikisahkan, pada akhir tahun 1960-an KH. Anas Noer pernah “matur” kepada ayahnya KH. Nur Fathoni Kersan, untuk pergi ke Pemalang “sowan” kepada KH. Mbah Nur Walangsanga Moga. Saat itu KH. Mbah Nur Walangsanga belum banyak dikenal kalangan masyarakat luas. KH. Nur Fathoni Kersan mengatakan kepada anaknya, “KH. Mbah Nur Durya iku ijek enom tapi wes dadi wali, omahe nggon tengah sawah, pinggire kali”. (KH. Mbah Nur Durya itu masih muda tetapi sudah jadi waliyullah. Rumahnya di tengah sawah dan pinggir sungai)”.
2.2 Guru-Guru
1. Kyai Muslim (Bendakerep-Cirebon),
2. Kyai Kaukab bin Kyai Muslim (Bendakerep-Cirebon),
3. Kyai Wahmuka,
4. Kyai Jami’ Banyumundang,
5. Kyai Dahlan (Purbalingga).
6. Syekh Armia (Cikura-Tegal),
7. Kyai Said bin Syekh Armia (Talang-Tegal).
3. Karomah
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

