Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Syekh Mas Mohammad Arsyad Thawil Al-Bantani
✓ Terverifikasi Tim Riset

Syekh Mas Mohammad Arsyad Thawil Al-Bantani

1839 – 1851 M · 6.264 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Syekh Arsyad Thawil lahir di Desa Lempayung, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang Banten pada Zulkaedah 1255 H/Januari 1840 M. Riwayat lain menyebut beliau lahir tahun 1263 H/1847 M. Tidak ada yang tahu persis, namun dibatu nisan tempat wafatnya di Manado tertulis beliau lahir tahun 1851 M.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi:

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Kembali ke Indonesia
3.2  Diasingkan oleh Belanda

4.    Kisah Guru dan Murid
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
Syekh Arsyad Thawil lahir di Desa Lempayung, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang Banten pada Zulkaedah 1255 H/Januari 1840 M. Riwayat lain menyebut beliau lahir tahun 1263 H/1847 M. Tidak ada yang tahu persis, namun dibatu nisan tempat wafatnya di Manado tertulis beliau lahir tahun 1851 M.

Ayahnya bernama Imam As'ad bin Mustafa bin As'ad. Ibunya bernama Nyai Ayu Nazham. Syekh Arsyad lahir dengan nama Mas Mohammad Arsyad. Julukan "Mas" adalah singkatan dari Permas, sebuah gelar kebangsawanan Banten yang merupakan keturunan kesultanan.

1.2 Riwayat Keluarga
Syekh Arsyad menikah di tempat pengasingannya di Manado dengan seorang gadis Minahasa yang merupakan anak dari seorang pendeta setempat bernama Magdalena Runtu yang setelah memeluk agama Islam mengubah namanya menjadi Tarhimah Magdalena Runtu.

1.3 Wafat
Syekh Arsyad Thawil, wafat di Manado, Sulawesi Utara, pada hari Senin, 14 Zulhijah 1353 Hijriyah atau bertepatan dengan 19 Maret 1935 Masehi. Beliau dimakamkan di Pemakaman Lawangirung.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Syekh Arsyad menerima pendidikan agama dasar langsung dari ayahnya yang juga seorang ulama dan memiliki Pesantren di Tanara. Saat usia 16 tahun, pada tahun 1867 M. Syekh Arsyad melakukan perjalanan menuju Bima di Pulau Sumbawa untuk belajar kepada Syekh Abdul Ghani.

Namun baru sampai di Surabaya, beliau bertemu dengan Syekh Abdul Ghani yang akan melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Selanjutnya beliau menyatakan keinginannya untuk belajar kepadanya, Syekh Abdul Ghani kemudian menerima Syekh Arsyad sebagai murid sekaligus mengajaknya untuk pergi ke Makkah.

Di Masjidil Haram, Syekh Arsyad mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Mufti Mekkah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, terutama mengenai Ilmu nahwu, fikih, dan sirah. Selain belajar kepada Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Arsyad juga belajar kepada beberapa ulama di Makkah, di antaranya Syekh Nawawi Al-Bantani dan Sayyid Abu Bakri Syatha (di bawah bimbingan kedua putranya, Sayyid Umar Syatha dan Sayyid Utsman Syatha).

Syekh Arsyad memperdalam ilmu hadits kepada Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi Al-Makki di bawah bimbingan anaknya, Mufti Al-Muhaddits Al-Habib Husain bin Muhammad Al-Habsyi Al-Makki. Selain itu, Syekh Arsyad juga memperoleh ilmu hadits dari ulama Madinah, Syekh Abdul Ghani bin Abi Sa’id Al-Mujaddidi di bawah bimbingan beberapa muridnya, Sayyid Ali bin Zhahir Al-Watri, Syekh Shalih bin Muhammad Az-Zhahiri, dan Syekh Abdul Jalil Barradah. Sedangkan untuk ilmu fikih, Syekh Arsyad juga memperdalamnya kepada Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah Al-Makki.

2.2 Guru-Guru

  1. Syekh Imam As'ad bin Mustafa bin As'ad (ayah)

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+