Syekh Abdul Ghani Al-Bimawi Al-Jawi lahir pada akhir abad ke-18, diperkirakan tahun 1780 M. Kelak, beliau tercatat sebagai ulama besar di bumi Nusantara. Ayahnya, Syekh Subuh, diangkat oleh penguasa Bima, yaitu Sultan Auluddin Muhammad Syah (1731-1743).
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi:
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-guru
2.3 Murid-murid
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Staf Pengajar di Masjidil Haram
3.2 Sempat Kembali ke Indonesia
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
Nusa Tenggara atau hari ini dikenal dengan NTB terdiri dari dua pulau besar, yaitu pulau Lombok dan pulau Sumbawa, dan terdiri dari tiga Suku besar, yaitu Suku Sasak, Samawa, dan Mbojo. Di ujung timur pulau Sumbawa, terdapat Daerah yang kemudian disebut Bima, Daerah kelahiran Ulama besar, yakni Syekh Abdul Ghani Al-Bimawi Al-Jawi.
1.1 Lahir
Syekh Abdul Ghani Al-Bimawi Al-Jawi lahir pada akhir abad ke-18, diperkirakan tahun 1780 M. Kelak, beliau tercatat sebagai ulama besar di bumi Nusantara. Ayahnya, Syekh Subuh, diangkat oleh penguasa Bima, yaitu Sultan Auluddin Muhammad Syah (1731-1743).
Sebagai imam kesultanan atau penasehat keagamaan. Kedalaman ilmu agama Syekh Subuh terbukti dengan ditulisnya Mushaf Bima yang dikenal dengan sebutan La Lino. Ilmu agama Syekh Subuh mengalir kepada sang putra, sehingga beliau mencari ilmu ke berbagai daerah hingga ke tanah suci Makkah.
1.2 Riwayat Keluarga
Syekh Abdul Ghani memiliki seorang anak dari pernikahannya dengan putri Raja Dompu, bernama Syekh Mansyur. Suatu saat yang akan menggantikan posisi Syekh Abdul Ghani sebagai Qadhi Kesultanan Dompu setelah bertolak kembali ke Makkah. Syekh Mansyur menjadikan kawasan So Ja’do sebagai pusat dakwah, hingga beliau lebih dikenal dengan nama Sehe Ja’do. Saat ini So Ja’do masuk wilayah Kelurahan Bali Satu, Utara Jalan Lintas Luar Dompu.
1.3 Wafat
Syekh Abdul Ghani wafat di Makkah dan dimakamkan di pemakaman Ma’la, perkiraan pada tahun 1270 H atau dasawarsa terakhir Abad ke-19 M.
Syekh Abul-Faidh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani, dalam tashhih kitab Kifâyatul-Mustafîd Limâ ‘Alâ Ladat-Tarmîsî Minal-Asânid, menyebut pribadi Syekh Abdul Ghani sebagai salah satu dari 103 tokoh Ulama Melayu yang begitu pakar dan banyak meriwayatkan Hadis Nabawi.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Di Makkah, Syekh Abdul Ghani Al-Bimawi Al-Jawi berguru ke berbagai ulama, seperti Allamah Muhammad Marzuqi dan Syekh Ahmad Marzuqi, penulis kitab ‘Aqidah Al-Awwam. Kemudian, beliau berguru kepada Syekh Muhammad Sa’id Al-Qudsi dan Allamah ‘Utsman Ad-Dimyathi.
Setelah belajar dari guru dan ulama ternama, kedalaman ilmunya diakui oleh ulama lain, sehingga beliau menjadi guru bagi para ulama Nusantara, dan “sebagaimana dicatat di buku Masterpiece Islam Nusantara karya zainul Milal Bizawie” merupakan salah seorang tokoh yang membentuk jejaring ulama Nusantara abad ke-19.
Salah satu sanad gurunya adalah Syeikh Baharudin dari Syekh Yusuf Al-Mahmudun, dari Syekh Abdul Yazid Al-Busthomi, dari Syekh Hasyaril Basyari, dari Syekh Ma’riful Qarhim, dari Syekh Hablul Adaami, d
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

