KH. Abdul Hadi, beliau adalah putra pertama dari pasangan Kiai Masdar dan Nyai Siti Kholifah, lahir tahun 1953 di Desa Sukojember, Kecamatan Jelbuk.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
3. Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Karier Beliau
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Abdul Hadi, beliau adalah putra pertama dari pasangan Kiai Masdar dan Nyai Siti Kholifah, lahir tahun 1953 di Desa Sukojember, Kecamatan Jelbuk.
1.2 Wafat
Beliau wafat pada tahun 2002.
1.3 Riwayat Keluarga
KH. Abdul Hadi menikahi seorang putri dari Kiai Misbah, Pengasuh Pondok Pesantren Misbahul Ulum, bernama Nyai Farid Akan tetapi pernikahan dengan Nyai Farid hanya berlangsung 16 bulan tanpa dikaruniai keturunan.
Dan setelah firaq , pada tahun 1977 menikah kembali dengan Nyai Siti Kholifah dan memutuskan tinggal di Kecamatan Mayang, Jember. Dari pasangan ini memiliki dua keturunan, yaitu Muhammad Tsabit dan Siti Zulfa Unziah.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Abdul Hadi muda belajar ilmu Al-Qur’an langsung dari ayahnya serta sang kakek, KH. Ahmad Iqrom. Selain itu, belajar ilmu alat dan kitab kuning kepada kakak sepupu, KH. Ibrohim. Sedangkan pendidikan formal hanya sampai sekolah dasar. Setelah beranjak dewasa, sekitar tahun 1965 menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Sumberwringin asuhan Kyai Umar. Di sanalah mempelajari segala macam ilmu keagamaan, termasuk juga NU.
Setelah beberapa lama, berkeinginan melanjutkan pengembaraan ilmu ke Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, namun gagal karena tidak direstui sang guru. Akhirnya terus melanjutkan belajar di pesantren tersebut hingga 9 tahun.
2.2 Guru-Guru Beliau
- Kyai Masdar
- KH. Ahmad Iqrom
- KH. Ibrohim
- Kyai Umar Sumberwringin
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
Setelah beberapa tahun tinggal di Mayang, KH. Abdul Hadi sering ditanyakan paman sekaligus gurunya terkait kapan akan kembali ke Suko, Jember membantu keluarga. Karena waktu itu membutuhkan penerus pesanrtren.
Akhirnya pada 1983, bersama keluarga pulang kembali ke Suko untuk membantu keluarga dalam mengurus pesantren. Bersamaan dengan itu mulai merintis berjuang untuk menghidupkan kembali Nahdlatul Ulama yang sempat vakum.
Selain berjuang di NU, KH. Abdul Hadi juga merintis pesantren baru karena dirasa sudah tidak mampu menampung santri. Dari sangat cintanya kepada jamiyah, nama pesantren rintisannya diberi nama Nahdlatul Ulum, yang mirip dengan NU. Dalam perkembangannya, pesantren ini mengundang banyak santri. Saat itu sebagian santri dikader menjadi pejuang dan mengabdi bersama dalam menghidupkan NU.
Sejumlah santri sering diutus mengikuti kegiatan NU, mengisi pengkaderan dan menghidupkan banom seperti Fatayat NU, Muslimat NU, IPNU-IP
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

