Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Umar Sumberwringin Jember
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Umar Sumberwringin Jember

1904 – 1982 M · 10.701 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Umar Sumberwringin Jember adalah ulama NU.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Umar Sumberwringin Jember

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Pengasuh
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama
  7. Melawan Penjajah
  8. Aktif di Politik
  9. Chart Silsilah Sanad

Kelahiran

Abd. KH. Mushowwir atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Umar lahir pada tahun 1904 M, di Desa Suko, Kec. Jelbuk, Kabupten Jember. Beliau merupakan putra sulung dari 4 bersaudara, dari pasangan Kiai Ahmad Ikram dan Nyai Aminah.

Wafat

Setelah menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, KH. Umar sakit-sakitan. Hingga pada tahun 1982, beliau meninggal dunia.

Keluarga

KH. Mushowwir melepas masa lajangnya dengan menikahi Shofiah, putri satu-satunya KH. M. Syukri. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 5 anak. Putra-putri beliau diantaranya, Nyai Hj. Masturoh Umar, KH. Khotib Umar, KH. Muzammil Umar, KH. Misbah Umar dan KH. Lutfi Umar.

Pendidikan

Sejak kecil, KH. Mushowwir belajar mengaji kepada ayahnya sendiri. Menjelang remaja, KH. Mushowwir dikirim ke Pesantren Banyuanyar, Pamekasan, Madura.

Di pesanteren asuhan KH. Abdul Hamid tersebut, KH. Mushowwir dikenal sebagai santri yang sangat setia mengabdi kepada gurunya. Misalnya, setiap hari ia menimbakan air untuk memenuhi bak mandi sang guru.

Diantara teman sepondok KH. Mushowwir  saat itu yang kemudian jadi “orang” adalah KH. As’ad Syamsul Arifin (Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo), KH. Zaini Mun’im (Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo) dan KH. Junaidi Asmuni (Pesantren Bustanul Makmur, Genteng, Banyuwangi).

Setelah cukup lama nyantri, KH. Mushowwir pulang ke Jember. Namun karena KH. Mushowwir selalu dahaga akan ilmu, maka ia pun mondok di Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Kec. Sukowono, Jember yang diasuh paman iparnya, KH. M. Syukri. Tak berapa lama kemudian, KH. Mushowwir pindah ke Pesantren Al-Wafa, Tempurejo, Jember asuhan KH. Abdul Azis, yang tak lain putra gurunya, KH. Abdul Hamid. KH. Mushowwir lalu pindah ke Pesantren Ya’kub Hamdani di Siwalan, Panji, Sidoarjo asuhan KH. Khozin.

Sebenarnya KH. Mushowwir masih ingin mondok beberapa lama lagi di situ, namun seiring berjalannya waktu, Pesantren Raudlatul Ulum membutuhkan tenaga untuk memutar roda pesantren.  Lebih-lebih, KH. M. Syukri sudah sakit-sakitan. Maka, KH. Mushowwir memutuskan pulang ke Sumberwringin setelah  beberapa bulan menginjakkan kaki di Siwalan.

Menjadi Pengasuh

Setelah KH. M. Syukri, KH. Mushowwir ditahbiskan menjadi pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum, menggantikan mertuanya. Beberapa waktu kemudian, KH. Mushowwir naik haji. Setelah 7 bulan, baru pulang dengan nama baru; KH. Muhamamd Umar. Orang kemudian biasa memanggilnya KH. Umar.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Nama KH. Umar, memang tidak terlalu populer. Namun di zamannya, kiai yang satu ini cukup terkenal sebagai pejuang NU yang

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+