Biografi KH. M. Charish Adnan Bojonegoro
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Karier
4.2 Karya-karya
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. M. Charish Adnan dilahirkan di Dusun Kendal, Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro pada hari Ahad jam 07.00 WIB 11 Sya’ban 1361 H atau bertepatan dengan tanggal 24 Agustus 1942, ayah beliau bernama KH. Abu Dzarrin dan Ibu beliau bernama Nyai Hj. Asmanah (Ibu Nyai H. Abu Dzarrin).
1.2 Wafat
KH. M. Charish Adnan wafat pada hari Rabu Kliwon, jam 09.45 WIB tanggal 13 Rajab 1421 H atau bertepatan pada tanggal 11 Oktober 2000 M, sebelum wafatnya KH. M. Charish Adnan menyelesaikan ziaroh pada makam para masyayikh, guru beliau dan makam Wali Songo dalam waktu 9 hari yang dimulai dari Wali Jawa Timur–Jawa Tengah dan diakhiri pada makamnya Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Sepulang dari makam Sunan Gunung Jati itulah pagi harinya beliau wafat.
1.3 Riwayat Keluarga
KH. M. Charish Adnan menikah dengan Ibu Nyai Hj. Umi Zulaikho binti M. Zain pada hari Rabu Wage malam Kamis Kliwon ba’da Isya’ tanggal 27 Rajab 1389 H/8 Oktober 1969 M dan dikaruniai 4 putra-putri yaitu, Hidayatul Badi’ Charish, Azimatun Nafisah Charish, Amir Syarifuddin Charish, Aini Lu’lu’atin Charish.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. M. Charish Adnan belajar dan mendalami berbagai ilmu sejak masih kecil sebelum baligh dan diasuh secara langsung oleh bapaknya sendiri, selain belajar pada bapaknya (KH. M Abu Dzarrin), KH. M. Charish Adnan juga belajar di berbagai tempat antara lain beliau belajar Al-Qur’an bersama-sama dengan saudaranya pada K. Kholil Somodikaran Dander (Sebuah Desa yang terletak ± 6 KM arah barat daya dari Pondok Pesantren Abu Dzarrin).
Setelah itu berlanjut beliau mengembara menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al-Ihsan Jampes Kediri dan saat belajar di Jampes inilah bapak beliau (KH. M Abu Dzarrin) meninggal dunia, tidak mengubah semangatnya beliau melanjutkan menempa ilmu menjadi penghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Jenu Asuhan KH. M. Husain Tuban pada tahun 1384 H/1964 M dalam jangka 18 bulan (satu setengah tahun).
2.2 Guru-Guru
1. Kyai Kholil Somodikaran
2. Kyai Ihsan Jampes
3. KH. M. Husain Tuban
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
Sepeninggal bapaknya, KH. M. Charish Adnan diamanahi tugas oleh ibunya mengajar Al-Qur’an pada para santri karena beliau ahli di bidang itu dan beliau termasuk salah satu Hafidzul Qur’an pada waktu itu, setelah berkeluarga beliau banyak mendapatkan masukan dan dukungan dari para alumni dan wali santri un
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

