KH. Moh. Baqir Adelan lahir pada tanggal 30 Agustus 1934 M. Atau 19 Jumadil Ula 1354 H. di desa Kranji kecamatan Paciran kabupaten Lamongan putera ke 6 dari 12 bersaudara.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Mengasuh Pondok Pesantren
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Karier
3.2 Karya-karya
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Moh. Baqir Adelan lahir pada tanggal 30 Agustus 1934 M atau 19 Jumadil Awal 1354 H di Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Merupakan seorang putra ke-6 dari 12 bersaudara, ibunya bernama Nyai Hj. Shofiyah (Putri ke-4 dari KH. Musthofa dengan Nyai Aminah Sholeh) sedangkan ayahnya bernama KH. Adelan Abdul Qodir (santrinya KH. Musthofa dari Kranji).
1.2 Wafat
KH. Moh. Baqir Adelan wafat tepat pukul 11.55 tanggal 15 Mei 2006 M.
1.3 Riwayat Keluarga
KH. Moh. Baqir Adelan memutuskan untuk membina rumah tangga untuk menyempurnakan agamanya. Ia menikahi Nyai Aminah, putri kedua dari pasangan bapak H. Mas'ud dan ibu Hj. Malihah, yang juga adalah adik kandung ayahnya. Akad nikah dilangsungkan di Masjid Kranji, yang sekarang dikenal sebagai "Masjid Baitur Rohman", pada bulan April 1964 M (15 Dzulhijjah 1384 H), ketika beliau berusia 27 tahun dan Nyai Aminah 12 tahun.
Meskipun masih muda, KH. Moh. Baqir Adelan memiliki peran penting di masyarakat. Dua tahun setelah menikah, pada tahun 1966, mereka diberkahi dengan seorang putra bernama Muhammad Nasrullah Baqir, yang kini memimpin pondok. Dari pernikahan ini, mereka memiliki sembilan anak, empat putra dan lima putri.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Pada masa kecilnya, KH. Moh. Baqir Adelan belajar Al-Qur'an seperti anak-anak seusianya. Guru pertamanya adalah ibunya sendiri, Nyai Hj. Sofiyah, kemudian beliau berguru pada neneknya, Nyai Aminah, paman beliau KH. Abdul Karim, dan KH. Musthofa, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah. Meskipun masih kecil, kegigihan beliau dalam menuntut ilmu terlihat, beliau bahkan berguru kepada empat ahli Al-Qur'an.
Pendidikan formal dimulai di Madrasah Salafiyah pada tahun 1940 hingga 1944, dilanjutkan ke Madrasah Muallimin Tunggul hingga 1948. Pada usia 14 tahun, beliau sudah mengajar dan berdakwah di bawah bimbingan KH. Moh. Amin. Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang dari tahun 1952 hingga 1954, dan di Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang dari tahun 1954 hingga 1958.
2.2 Guru-Guru
1. Nyai Hj. Sofiyah (ibunda)
2. Nyai Aminah (nenek beliau)
3. KH. Abdul Karim (paman beliau)
4. KH. Musthofa (pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah)
5. KH. Moh. Amin Musthofa
6. KH. Abdul Jalil
7. KH. Bisri Syansuri
2.3 Mengasuh Pondok Pesantren
Setelah KH. Adelan meninggal dunia, pemangku Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah diamanatkan kepada anaknya yang keenam yaitu KH. Moh. Baqir Adelan.
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Sebagai seorang tokoh agama dan Kyai, KH. Moh. Baqir Adelan (Kyai Baqir) menjalankan dakwah dengan berbagai metode. Me
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

