Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Masrochan, Pendiri Pesantren Durrotu Aswaja Semarang
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Masrochan, Pendiri Pesantren Durrotu Aswaja Semarang

1965 – 2016 M · 3.827 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Masrochan lahir pada 30 September 1965 adalah salah satu contoh santri yang taat terhadap guru dan tekun membina masyarakat. Atas perjuangan tersebut, beliau berhasil mendirikan Pesantren Durrotu Ahlissunnah Wal-Jama'ah (Durrotu Aswaja/PPDA) di Desa Banaran, Gunungpati, Kota Semarang.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru
2.3  Mendirikan Pondok Pesantren

3.    Penerus
3.1  Anak-Anak

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Karier

5.    Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga 
1.1 Lahir

KH. Masrochan lahir pada tanggal 30 September 1965 adalah salah satu contoh santri yang taat terhadap guru dan tekun membina masyarakat. Atas perjuangan tersebut, beliau berhasil mendirikan Pesantren Durrotu Ahlissunnah Wal-Jama'ah (Durrotu Aswaja/PPDA) di Desa Banaran, Gunungpati, Kota Semarang.

1.2 Wafat
Beliau wafat pada tanggal 10 Maret 2016 dan dimakamkan bagian selatan Universitas Negeri Semarang. 

Baca juga selengkapnya: Ziarah di Makam KH. Masrochan Pendiri Pesantren Durrotu Aswaja (PPDA) Gunungpati, Semarang

1.3 Riwayat Keluarga
Kyai Masrochan yang sudah boyong dari pondok kemudian menikah dengan warga Banaran dan mulai mengamalkan ilmunya dengan mengajar di teras rumah dan di mushala yang ada di Desa Banaran. 

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Kyai Masrochan pernah mondok di Pesantren Brumbungan Mranggen di bawah asuhan KH. Ibrahim terus melanjutkan di Kyai Masruhan Mranggen. Lalu beliau bertemu dengan KH. Syaikhun di Pasar Mranggen. Kemudian oleh Kyai Syaikhun beliau diajak ke Pesantren Taqwal Ilah Desa Tunggu, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Di tempat itulah beliau menempa diri sebagai santri yang berkhidmah dan menimba ilmu dari Kyai Syaikhun.

Kyai Syaikhun adalah salah satu Khalifah dari KH. Muslih bin Abdurrahman Mranggen dalam Tarekat Qodiriyah wan-Naqsabandiyah. Kyai Syaikhun sebagai guru menjadi sandaran hidup Kyai Masrochan kecil. Di pesantren yang ada di Desa Tunggu, Kecamatan Tembakang, Kyai Masruchan kecil mampu membuktikan baktinya kepada guru selayaknya orang tua sendiri.

Selain taat terhadap perintah guru, Kyai Masruchan juga dikenal sebagai santri yang tangguh dalam belajar. Terbukti dengan ketekunannya menyalin kitab besar demi bisa tetap mengaji.

2.2 Guru-Guru
1. KH. Ibrahim Brumbungan
2. Kyai Masruhan Mranggen
3. KH. Syaikhun

2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
Berawal ketika Abah Kyai Masrochan, yang seorang ulama yang berasal dari Demak mulai mengajar ilmu agama di mushola sebelah timur Pondok Pesantren Durrotu Aswaja (saat itu belum berdiri) kepada anak-anak Dukuh Banaran dan sekitarnya. Selang 2 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1988, beliau mulai mengajar di rumahnya sendiri. Dengan lebih dari 30 santri saat itu, dan santri yang terjauh berasal dari Limbangan, Boja, Kendal.

Pondok Pesantren Durrotu Ahlussunnah Wal Jama’ah atau sering disebut Pondok Pesantren Durrotu Aswaja, berlokasi di sebelah utar

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+