TGH. Abdul Halim dilahirkan di desa Sesele pada pertengahan abad ke-19. Terkait tahun tepatnya ada perbedaan riwayat, ada yang mengatakan ia lahir pada tahun 1845 M, dan ada yang meriwayatkan pada tahun 1853 M.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
3. Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Karier Beliau
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
TGH. Abdul Halim dilahirkan di desa Sesele pada pertengahan abad ke-19. Terkait tahun tepatnya ada perbedaan riwayat, ada yang mengatakan ia lahir pada tahun 1845 M, dan ada yang meriwayatkan pada tahun 1853 M.
TGH. Abdul Halim lahir di tengah-tengah keluarga religius, ia adalah putra ke-4, delapan bersaudara dari pasangan Amaq Syam alias Abdullah bin Syarif Abdurrahman (amaq dinah) bin Syarif Ibrahim dan Siti Maimunah. Ayahnya adalah seorang da'i yang syahid dibunuh secara keji oleh raja hindu ketika itu, pada saat Abdul Halim berusia sekitar tujuh tahun.
Kakek beliau Amaq dinah alias Syarif Abdurahman adalah seorang da'i yang menyebarkan agama islam di kawasan lombok barat sampai utara, dan buyutnya juga adalah seorang pendakwah bernama Syarif Ibrahim yang singgah di gumi selaparang pada abad ke-18 m.
1.2 Wafat
TGH. Abdul Halim berpulang pada Rahmatullahi pada 22 Muharram tahun 1388 hijriyah, bertepatan dengan 24 mei 1968.
1.3 Riwayat Keluarga
Setelah pulang dari Haromain juga TGH. Abdul Halim menikah dengan seorang janda bernama Siti Ruqoyyah. Sebelum pernikahan tersebut beliau diberikan pilihan untuk menikahi Ruqoyyah yang janda atau saudarinya yang masih gadis. Dan pada akhirnya pilihan TGH. Abdul Halim jatuh pada Siti Ruqoyyah. Dari istri pertamanya ini, beliau dianugerahi oleh Allah seorang putra bernama TGH. Ahmad Saruji (lahir. 1893-1931 m).
Pada saat putra pertamanya sudah berumur sekitar tujuh tahun, Abdul Halim menikah lagi dengan seorang gadis bernama siti Aisyah binti mustofa bin Qosim putri keliang bilitepung. Dari istri keduanya ini ia dianugerahi dua anak : Siti Hamidah (lahir1905) & TGH. Muhammad Anwar (lahir. 1920). Kemudian Abdul Halim menikah lagi dengan seorang janda bernama Siti Jamilah yang lalu melahirkan seorang putra bernama H. Abdul Hamid.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
TGH. Abdul Halim memulai pengembaraan intlektualnya dengan belajar membaca Al-Quran kepada Ayahnya dan ibunya Siti Maimunah, kemudian lanjut mengaji kepada ulama sesele saat itu, diantaranya TGH. Amin, TGH. Abdul Latief sesele, dll.
sampai akhirnya beliau memutuskan mengembara menyusul guru sekaligus kawannya TGH. Umar Kelayu ke tanah suci Makkah untuk berguru kepada Ulama yang ada di sana, diantara gurunya di kota suci adalah Syaikh Abdul Karim Ad-dagestani, Syaikh Musthofa bin Muhammad Al-afifi, Syaikh Abdul Karim Al-bantani, Syaikh Muhammad Nawawi bin umar Al-Bantani, Sayyid Abi bakar Syata, dlsb.
Pada puncaknya sebelum kembali ketanah air beliau mendapat ijazah thoriqoh yang dituliskan oleh Mursyidnya pada kopiyahnya.
2.2 Guru-Guru beliau saat menuntut ilmu:
- A
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

