Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Ahmad Bhusaeri, Pendiri Pesantren Nihayatul Amal Rawamerta Karawang
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Ahmad Bhusaeri, Pendiri Pesantren Nihayatul Amal Rawamerta Karawang

1923 – 2006 M · 5.648 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Ahmad Bhusaeri beliau adalah anak kedua dari enam bersaudara hasil dari pernikahan H. Musa bin Salwa dengan Hj. Syafi’ah binti Ramunah beliau dilahirkan pada tahun 1923 M.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru Beliau
2.3  Mendirikan Pondok Pesantren

3.    Penerus Beliau
3.1  Anak-anak Beliau

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Karier Beliau

5.    Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga 

1.1 Lahir
KH. Ahmad Bhusaeri beliau adalah anak kedua dari enam bersaudara hasil dari pernikahan H. Musa bin Salwa dengan Hj. Syafi’ah binti Ramunah beliau dilahirkan pada tahun 1923 M. Sukamerta adalah sebuah perkampungan yang termasuk salah satu desa dari kecamatan Rawamerta kabupaten Karawang. Penduduknya dari dahulu sangat bersahaja dan religius. Hal itu merupakan karakter sebuah masyarakat pedesaan yang dikelilingi oleh persawahan atau lebih terkenal dengan lumbung padinya. Surya, demikian nama kecil KH. Ahmad Bhusaeri yang lahir dan di besarkan dalam lingkungan keluarga agamis.

1.2 Wafat
KH. Ahmad Bhusaeri wafat pada tahun 2006, makam beliau berada di komplek pemakaman keluarga pondok pesantren Nihayatul Amal, Rawamerta, Karawang.

1.3 Riwayat Keluarga
KH. Ahmad Bhusaeri menikah dengan seorang wanita sholehah bernama Hj. Qona'ah dikaruniai beberapa anak.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Ahmad Bhusaeri muda terus belajar menggali ilmu agama, hal itu ditunjukan setelah beliau pulang dari Banten mengaji Al-Qur'an dan dilanjutkan untuk menuntut ilmu. 

Di pondok pesantren Sukamiskin Bandung yang saat itu diasuh oleh ulama besar yaitu KH. Raden Dimyati dalam kurun waktu menjelang tahun-tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945. Pesantren Sukamiskin Bandung dalam sejarah merupakan salah satu pesantren yang jadi penggerak para ulama, santri dan masyarakat sekitarnya untuk melawan kolonial Belanda.

Setelah reda pergolakan Republik Indonesia dan bangsa Indonesia mencapai puncak kemerdekaannya, KH. Ahmad Bhusaeri muda melanjutkan menutut ilmu ke pondok pesantren Sempur yang diasuh oleh ulama besar waliyullah bernama KH. Tubagus Ahmad Bakri bin KH. Tubagus Syaeda’ yang kala itu pesantren Sempur merupakan salah satu pesantren besar di Jawa Barat sehingga ada peribahasa di kalangan santri:

"Kurang sempurna jadi santri di Jawa Barat kalau tidak mondok di Sempur". 

Dengan kearifan seorang guru yaitu Mbah Sempur yang juga mursyid telah mengetahui ketekunan dan kerajinan belajar muridnya yang bernama KH. Ahmad Bhusaeri begitu tinggi dan beliau KH. Tubagus Ahmad Bakri menaruh harapan kepadanya untuk bisa meneruskan perjuangan para alim ulama sebagai Warosatul Ambiya kelak di kemudian hari. 

Perhatian KH. Tubagus Ahmad Bakri Sempur kepada Surya (KH. Ahmad Bhusaeri) yang begitu tinggi tidak membuat sikap dan hati pemuda Surya lantas menjadi sombong justru sebaliknya ia menjadi rendah hati dan terus meminta petunjuk guru. Hal itu beliau buktikan ketika mau pindah ke pesantren lain selalu minta ridho dan petunjuk Tubagus Sempur.

Setelah mendapatkan restu dari KH. Tubagus Ahmad Bakri Sempur pemuda Surya melanjutkan menuntut ilmunya di pondok pesantren

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+