KH. Maulana Imam Syuhadak, beliau akrab disapa dengan Abah Syuhadak. Beliau lahir di Desa Menampu, Jember 05 Juli 1942, dari pasangan Mujahid dan Nasihatun.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pondok Pesantren
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Maulana Imam Syuhadak, yang akrab disapa Abah Syuhadak, lahir di Desa Menampu, Jember, pada tanggal 5 Juli 1942. Beliau adalah putra dari pasangan KH. Mujahid dan Nyai Nasihatun.
1.2 Wafat
KH. Maulana Imam Syuhadak dipanggil ke Rahmatullah pada tanggal 27 Juli 2009.
1.3 Riwayat Keluarga
Pada tahun 1986, KH. Maulana Imam Syuhadak menikah dengan Ibu Nyai Hj. Umi Salamah Syuhadak, putri dari Bapak Sumarlin dan Ibu Fathonah. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai empat orang putra-putri. Pada tahun 1986, beliau sudah memiliki lebih dari 15 santri.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Maulana Imam Syuhadak menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren di Jawa. Beliau belajar di Pondok As-Suniyah Kencong yang diasuh oleh Kyai Jauhari Zawawi selama kurang lebih tiga tahun. Setelah itu, beliau melanjutkan belajar kepada Syekh Hayyi Malang di Macanbang, Tulungagung, dan kemudian kepada Abah Yai Jauhari Umar di Pasuruan. Terakhir, beliau menuntut ilmu kepada Kyai Ahmad Muzaky, yang menginspirasi beliau untuk mendirikan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
Selama masa remajanya, beliau banyak menghabiskan waktu di Jawa untuk belajar, bersilaturahmi dengan alim ulama, tabarukan, dan bekerja keras. Sebagai saudara tertua, beliau juga sering pulang ke Gumuk Mas untuk mencari bekal dan mengajak saudara-saudaranya tetap berada di pondok.
2.2 Guru-Guru
Beberapa guru yang membimbingnya antara lain:
1. KH. Jauhari Zawawi
2. Syekh Hayyi Malang Macanbang Tulungagung
3. KH. Jauhari Umar Pasuruan
4. KH. Ahmad Muzaky
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pondok Pesantren
Dengan niat dan kemauan yang kuat, KH. Maulana Imam Syuhadak merintis pesantren dengan metode pengajaran Sorogan, Wetonan, dan Sekolah Diniyah, yang santrinya berasal dari Desa Sukajadi dan sekitarnya. Beliau memulai dengan merehab Masjid Jami'atul Huda pada tahun 1986 dan mendapatkan bantuan pemerintah berupa satu unit gedung madrasah pada tahun 1987, sehingga dibuka Madrasah Ibtidaiyyah.
Pada tahun 1990, pesantren membangun satu unit gedung asrama yang terdiri dari kantor dan beberapa kamar asrama. Pada tahun 1991, pesantren membeli tanah di belakang pondok untuk perluasan dan mendirikan aula. Tahun 1992, dua unit asrama putra dibangun, dan setahun kemudian dibangun gedung Aliyah dan asrama putri. Pada tahun 1993, pesantren membeli tanah tambahan untuk mendirikan lebih banyak asrama putri.
Dengan bantuan dari Departemen Agama Pusat sebesar 10 juta, pesantren merehab asrama putra dan putri. Tahun 1996, masyarakat setempat
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

