Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Suhaemi, Pendiri Pesantren Darul Hikmah Serang Banten
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Suhaemi, Pendiri Pesantren Darul Hikmah Serang Banten

1945 – 2021 M · 6.315 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Suhaemi masuk dan istiqomah dalam amaliah ajaran tasawuf dengan mengambil sanad tarekat kepada Abah KH. TB Khisni, menantu dari Abah KH. TB. Ahmad Sukamandi Kasemen (mertua Abuya Muhtadi Cidahu) yaitu Tarekat Qodriyah Naqsyabandiyah.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pesantren
3.2  Sanad Tarekat
3.3  Kiprah di Nahdlatul Ulama

4.    Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga 

1.1 Lahir
KH. Suhaemi lahir di Kampung Bolang Pulo, Desa Bolang Carenang (kini Lebak Wangi) pada tanggal 18 Juli 1945 dari pasangan KH. Khamsidin dan ibu Hj. Sundari yang berasal dari Laes Ciagel Kibin. KH. Suhaemi merupakan putra pertama dari 3 bersaudara, saudari-saudarinya bernama Nyai Syur’ah dan Nyai Murdanah.

Ayahnya adalah seorang petani kaya raya, puluhan hektar sawah, hingga puluhan ternak kerbau dan kambing, sementara ibunya pedagang kain keliling, karena kesehariannya bekerja dagang kain dari rumah ke rumah, kombinasi petani dan pedagang.

1.2 Riwayat Keluarga
Tahun 1968, Kyai Suhaemi muda dinikahkan oleh gurunya KH. Syanwani dengan putrinya yaitu Nyai Afifah Alawiyah. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai 9 anak, yakni Dra. Hj. Khaeriyah, Ust. Ali Imron, S.Ag., Ust. M. Furqon, S.Ag., Hamdan Suhaemi, Asep Syukron, Ust. Subhan, M.Pd., Ust. Iwan Ridwan, S.Pd., Umu mutamimah, S.E., dan Inah Mutmainah,S. Pd.

1.2 Wafat
KH. Suhaemi wafat pada hari Selasa siang tanggal 9 Maret 2021 atau 25 Rajab 1442 H.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
KH. Suhaemi kecil, dididik oleh seorang kyai bernama Kyai Hasan (ayah dari KH. Sihabudin Bolang), terutama ngaji Qur’an dan rerukunan, dan paginya bersekolah di Sekolah Ongko Loro, kebetulan gurunya yaitu Pak Nuriman adalah kakak ipar misan. Sosok guru yang zaman Jepang pernah jadi Sudanco, karena itu beliau ini fasih bahasa Jepang.

Kyai Hasan, mengajari membaca Al-Qur’an pada Kyai Suhaemi ini begitu mudahnya, cepat nangkap dan lisannya fasih. Sisi pribadi Kyai Suhaemi kecil yang disayang gurunya karena termasuk anak yang ulet, rajin dan fokus ngaji.

Setelah lulus sekolah Ongko Loro, Kyai Suhaemi remaja pergi ke pesantren daerah Cadasari Pandeglang, dan mengaji pada seorang ulama besar kala itu yaitu Abuya Icot, orang sekitar memanggil gurunya dengan panggilan itu karena tidak ada yang mengetahui nama aslinya.

Abuya Icot, adalah ulama besar hidup di era tahun 50-an yang masyhur di Kabupaten Pandeglang, terutama Cadasari dan Baros. Lewat tangan dinginnya Abuya Icot mengkader Kyai Suhaemi remaja untuk ngaji ilmu (nahwu dan sharaf), titik tekannya terhadap ilmu shorof. Dari Abuya Icot inilah, Kyai Suhaemi remaja jatuh hati pada ilmu sharaf, melebihi kecintaannya atas ilmu-ilmu lainnya.

Era tahun 60-an tersiar kabar yang diterima oleh Kyai Khamsidin yaitu telah tampil kyai muda yang alim, pemberani, sakti, dan tabahhur ilmunya karena termasuk mutafannin yakni Al-Alim Al-Allamah Al-Arif Billah KH. Syanwani yang tengah giat mengasuh santri di pesantrennya yaitu Ashhabul Maimanah di Kampung Sampang Susukan Tirtayasa Serang. Begitu masyhurnya hingga orang tua Kyai Suhaemi tertarik un

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+